Slide 1 Slide 2 Slide 2 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Tampilkan postingan dengan label Information. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Posisi Perempuan dalam Kepengurusan PC. IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta

Yogyakarta (26/10) 22 kader pengisi pos PC MM AR Fachruddin Kota Yogyakarta resmi dilantik. Meskipun terdapat dua kader yang berhalangan menghadiri ikrar pelantikan, agenda sakral ini tetap berjalan khidmat. Dari komposisi 24 pimpinan ini, terdapat 7 perempuan yang turut menduduki pos di cabang. 3 orang menduduki sekbid (sekretaris bidang), 2 orang menduduki kabid (ketua bidang) dan sisanya mengisi sekretaris satu dan bendahara.

"Paling tidak dari komposisi tersebut (PC AR Fakhruddin) telah memenuhi kuota 30%." Ujar Noviati Roficoh selaku ketua bidang Immawati.

Menurut Vidya Mar'atusolihah, sekretaris bidang Riset dan Keilmuan, hal ini menunjukkan peningkatan bagi pimpinan sendiri mengingat sebelumnya hanya ada satu kabid perempuan, itupun di bidang Immawati. Dari tahun ke tahun, komposisi kepemimpinan di Cabang AR Fakhruddin memang selalu di dominasi oleh Immawan (sebutan kader laki-laki). Selain ketua umum, beberapa bidang basah yang hampir sulit dijabat oleh Immawati (sebutan kader peremluan) antara lain Hikmah, Kader dan Keilmuan. Dari keempat posisi tersebut, Ketua umum dan Hikmah yang belum pernah dijabat oleh Immawati.

Upaya affirmative action telah dilakukan sejak periode Farkhan Lutfi melalui pendirian Sekim (Sekolah Immawati) yang waktu itu diinisiasi oleh Immawati Fifin selaku Kabid Immawati. Namun, faktanya secara kuantitas dominasi Immawan masih berlanjut hingga hari ini dalam struktural PC. Hal ini sangat disayangkan oleh Ahsani Soleha, salah satu pendiri Forum Kajian Gender, Alena, yang juga merupakan peraih predikat Immawati terbaik di Sekim periode 2013/14. Menurut Ahsani, faktor minimnya kepemimpinan di struktural Cabang AR salah satunya adalah ketidakpercayaan terhadap kualitas perempuan, sehingga dalam proses pemilihan sendiri telah bersifat patriarkis.

Seolah mendukung, anggota Alena yang lain mengimbuhkan tentang keheranannya terhadap kaderisasi yang berlangsung. "Cukup aneh ketika kaderisasi hanya melahirkan pemimpin laki-laki, berarti ada yang bermasalah disini, dan semakin bermasalah ketika ini dianggap hal yang lazim." Ujarnya. (set)
Sumber : repost dari Facebook Dewi Stya (klik


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Akbar Nahkodai PC IMM A.R Fakhruddin Kota Yogyakarta


Yogyakarta – Senin (12/10/2015) Musyawarah Cabang (Musycab) XII Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Abdul Razaq Fakhruddin Kota Yogyakarta yang lebih akrab disapa PC IMM A.R Fakhruddin yang telah berlangsung sejak hari Jum’at (9/10/2015) lalu, memilih Ahmad Akbar Fitriansyah sebagai Ketua Umum periode 2015-2016.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun”, ungkapan yang pertama diucapkan oleh ketua terpilih. Harapannya, ketua terpilih dapat membawa PC IMM AR Fakhruddin yang lebi baik, sesuai dengan gagasan-gagasan yang telah dirundingkan. Selanjutnya, tim formatur akan menyusun komposisi struktur pimpinan cabang IMM AR Fakhruddin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.  
Berdasarkan perhitungan suara yang berlangsung sampai pukul 03.00 dini hari (12/10), panitia pemilihan menetapkan 13 orang nama-nama daftar formatur terpilih. Berikut nama-nama formatur terpilih.
1
Ade Juniara
47
2
Wahidun Arif Rijali
46
3
Adib Wirawan
41
4
Ahmad Akbar Fitriansyah
41
5
Dewi Setiyaningsih
40
6
Amallia Wiji Winarsih
37
7
Body Muthoharoh
36
8
Vidya Markhatus S
35
9
Bagus Arrasyid
31
10
Kasyfi Idraky
31
11
Immawan Wahyudi A.
30
12
Dini Fitrah Eristanti
28
13
Chairul Mukmin
27

Daftar 13 Formatur terpilih. Jumlah pemilih terdapat 54 suara, suara sah 52 suara, dan suara tidak sah 2 suara. 

Sumber : PC IMM. AR. Fakhruddin 




Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

PC IMM A.R Fakhruddin Launching Buku 'Membuka Pintu Intelektualitas'


YOGYA (KRjogja.com) - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Abdul Razaq Fakhruddin Kota Yogyakarta yang akrab disapa (PC IMM A.R Fakhruddin) me-launching buku “Membuka Pintu Intelektualitas” disela acara Musyawarah Cabang (Musycab) ke XII, Sabtu (10/10/2015) malam. 

Launching buku dilaksanakan setelah pembacaan Laporan Pertanggungjawaban PC IMM A.R Fakhruddin periode 2014-2015, dan disaksikan oleh seluruh kader IMM A.R Fakhruddin yang hadir dalam arena Musycab XII di Aula Komplek Kantor Kelurahan Ambar Ketawang, Gamping, Sleman. Buku yang masih dicetak dalam jumlah terbatas tersebut, dibagikan cuma-cuma ke seluruh Pimpinan Komisariat dibawah naungan PC IMM A.R Fakhruddin. Untuk selanjutnya buku akan dicetak dalam jumlah yang lebih besar oleh MIM Indigenous School, sebuah lembaga pengembangan keilmuan yang didirikan oleh kader IMM A.R Fakhruddin. 

Buku 'Membuka Pintu Intelektualitas' merupakan kumpulan tulisan kader IMM A.R Fakhruddin Kota Yogyakarta dari lintas disiplin ilmu, yang tergabung dalam creative minority dibawah payung Madrasah Intelektual Muhammadiyah (MIM) dan Sekolah IMMawati (SekIMM). Tulisan berisi perbincangan pemikiran, ‘obrolan’ ringan seputar dialog integrasi ilmu, pemikiran filsafat, pandangan serta wacana gender. 

"Sebagai gerakan mahasiswa, IMM tidak bisa lepas dari gerakan intelektual, karena inti dari mahasiswa adalah kadar intelektualitasnya, maka IMM harus mampu membuka selebar-lebarnya 'pintu ijtihad' di ranah intelektual. Sehingga mampu mencetak kader yang tidak lagi berfikir secara dikotomis-parsial namun menuju ke cara berfikir yang integratif-interdisiplinary. Kader IMM harus menulis ! Tuliskan gagasan!" ungkap Arif Widodo Ketua Bidang Keilmuan PC IMM A.R Fakhruddin Kota Yogyakarta 2014-2015 ditemui usai membagikan buku kepada peserta Musycab XII. 

Buku 'Membuka Pintu Intelektualitas' merupakan buku ke-empat karya kader IMM A.R Fakhruddin, setelah buku sebelumnya, Rahim Perjuangan; Catatan Mahasiswa yang Rindu Perubahan (2009), Tak Sekadar Merah (2013), dan Genealogi Kaum Merah; Pemikiran dan Gerakan (2014). Dari buku ini diharapkan dapat menjadi gerbang pembuka beragam warisan keilmuan dunia. (*)

Repost dari (krjogja)

 
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Alumni PC IMM AR. Fakhruddin Bentuk IMMAR Foundation



Yogyakarta—bertempat di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada tanggal 14 Maret 2015 yang lalu diadakan reuni kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Dalam pertemuan yang dihadari oleh kader lintas generasi dan dibuka oleh Wakil Rektor I UMY Dr. Gunawan Budiarto, MP. Ini berjalan secara dinamis.

Dalam sambutannya Dr. Gunawan Budiarto, MP. berharap terhadap kader IMM agar mampu berperan aktif dalam persoalan kemanusiaan yang saat ini kian memprihatinkan. Ia pun menggambarkan apa yang terjadi di Timur Tengah, yang kini tengah berada dalam bara konflik dan beberapa konflik horisontal di negeri ini memerlukan perhatian dan peran yang serius. Apalagi, IMM sebagai bagian dari angkatan muda Muhammadiyah dapat memberikan pemikiran dan gerakan secara kreatif, sehingga gerakan Muhammadiyah kedepan semakin menunjukkan peran-peran solutif terhadap persoalan bangsa dan agama.

Pertemuan ini juga diisi sharing mengenai sejarah dan perkembangan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta dengan mengadirkan Irvan Mawardi, SH. selaku Ketua Umum pertama dan Fauzi Fashri, S.IP., M.Si. selaku ketua generasi ketiga PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Selain itu, juga hadir Gintoro, S.IP dan Drs. Husni Amriyanto, M.Si. yang juga memaparkan tentang dinamika IMM khususnya di UMY. Berdasarkan penjelasan dari keempat pembicara tersebut menunjukkan bahwa sejarah kelahiran PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta merupakan hal yang sudah dipersiapkan secara matang, termasuk penggunaaan nama Pak AR. Fakhruddin sebagai tokoh berpengaruh dan menyejarah dalam kepemimpinan organisasi persyarikatan Muhammadiyah. Kini, dengan semakin banyaknya kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta, yang telah melakukan diaspora keberbagai sektor profesi, harusnya menjadi modal besar untuk semakin menunjukkan peran strategis dan berdampak positif jangka panjang, tidak hanya pada sesama kader, melainkan juga untuk bangsa, umat dan persyarikatan. 

Hasil dari reuni kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta ini pun ditindaklanjuti dengan mendirikan IMMAR Foundation. Spirit lahirnya IMMAR Foundation tersebut dilatarbelakangi keinginan alumni yang telah melakukan diaspora diberbagai sektor profesi untuk bisa tetap berkontribusi terhadap PC IMM AR. Fakhruddin maupun kepada sesama kader yang membutuhkan. Yayasan ini semacam mendorong partipasi kader berfilantropi secara kolektif melalui lembaga, yang pada akhirnya menciptakan kesadaran memilki dan kebanggaan sebagai bagian keluarga besar PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakata. (Cm)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Lomba

Dalam rangka memeriahkan Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang ke-51. Maka, MIM Indigenous School bersama IMM Setengah Abad mengadakan lomba penulisan Cerpen dan Blog. Untuk mengetahui ketentuan tersebut silahkan 'tengok' poster ini baik-baik nggeh :)




Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Diskusi Perdana Madrasah Intelektual Muhammadiyah (MIM)

Senin, 26 januari 2015 Jam 09.00-12.00 WIB Di Ruang 07 Gedung D UMY, Pemantik: DR. Muhammad Azhar (Dosen FAI UMY dan aktivis Persyariaktan), Peserta dari komisariat sekitar 25 orang, Tema diskusi: “Paradigma Ilmu Integralistik (hubungan Agama, Natural Sciences dan social sciences)”, Poin2 diskusi: Fenomena dikotomi ilmu serta dampaknya terhadap perkembangan ilmu modern, keterkaitan antara ilmu agama-ilmu alam-ilmu sosial, urgensi integrasi ilmu di era post-modern, pola huungan agama dan ilmu, hubungan dialogis-integratif antar agama dan ilmu.

Lanjutan agenda: Focus Group Discussion (FGD) pada 28 januari 2015

Sumber : Blog PC. IMM AR. Fakhruddin  (Klik)

 
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Pegiat MIM Indigenous School Ke India



DPP IMM - 2014 Nampaknya menjadi tahun-tahun emas kegemilangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Secara besar-besaran DPP IMM mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk menyebar ke berbagai belahan dunia guna menyumbangkan ide dan gagasannya pada forum-forum internasional. 31 Agustus 2014, bertempat di Pusdiklat Aparatur Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Ketua Umum DPP IMM, Immawan Beni Pramula, melepas kepergian salah satu kader terbaiknya, Immawan Rijal Ramdani yang merupakan Ketua Korps Instruktur dan Sekretaris Bidang Kader DPD IMM DIY, untuk pergi ke India mengikuti program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN). Bertemu dengan perwakilan pemuda dari 10 Negara Asean yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI bekerjasama dengan Confederation of Indian Industry (CII).

Immawan Beni Pramula berharap bahwa “Pemuda Indonesia khususnya kader-kader IMM Se-Nusantara tidak boleh solorun berkutat di internal. Kita harus maju, jangan hanya merasa besar didalam. Bagaikan katak dalam tempurung. IMM harus menyebar ke berbagai belahan dunia. Berfikir besar, bermimpi dan bercita-cita besar lalu kembali ke tanah air dengan segudang pengalaman untuk membangun Bangsanya”. Secara pribadi, Immawan Beni pun berpesan kepada Immawan Rijal Ramdani, untuk melakukan koneksi dengan kader Muhammadiyah yang sedang belajar di India sehingga bisa menjadi langkah awal untuk melakukan rintisan pembentukan Pimpinan Cabang Istimewah IMM di India. Selain itu Immawan Beni pun menekankan pentingnya membangun jejaring dengan Pemuda – Pemuda perwakilan dari Negara – Negara di Regional ASEAN lainnya. Semuanya itu perlu untuk dilakukan sebagai bentuk aktvitas progresif yang dilakukan oleh DPP IMM untuk mengembangkan jejaring dan membuka cakrawala pengetahuan sehingga ide, gagasan dan nilai-nilai perjuangan Ikatan bisa mendunia.

Bagi Immawan Rijal Ramdani sendiri, ketertarikannya mengikuti kegiatan ini tidak terlepas dari keberhasilan India di dalam membangun perekonomiannya, sehingga dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 7 – 8 persen banyak ekonom Dunia menyebut India sebagai the Second Giant kekuatan Ekonomi di ASIA setelah Cina. Di sisi lain secara demografis jumlah muslim di India pun merupakan yang terbesar kedua setelah Indonesia (Sebanyak 177 Juta Jiwa), sehingga tidak menutup kemungkinan dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,3 persen per tahun dan sebagai Negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Dunia (1,2 milyar), dalam rentan waktu 10 – 20 tahun India akan menjadi Negara dengan penduduk Muslim terbanyak di Dunia. Selama kurang lebih 11 hari Immawan Rijal Ramdani mengunjungi beberapa Perusahaan dan beberapa Kampus Ternama di India, seperti; Perusahaan Infosys, Bosch, dan TVS di Bangalore Negara Bagian Karnataka; Prasad Group of Companies, Tata Consultancy Sevices, dan Harsha Engginering di Ahmedabad Negara Bagian Gujarat, dan Hero Honda di New Delhi Ibu Kota India. Perusahaan – perusahaan tersebut ada yang bergerak dalam bidang Softwar, Manufactur Onerdil Mobil, Motor, dll. Sementara untuk kampus yang dikunjunginya adalah Indian Institute of Management di Bangalore dan Gujarat; keduanya merupkan kampus yang melahirkan CEO – CEO perusahaan besar di Dunia. Dan sebagai penyempurna Immawan Rijal Ramdani pun diajak berekreasi mengunjungi Icon Negara India, Taj Mahal, yang merupakan salah satu dari Tujuh keajaiban di Dunia peninggalan terbesar kerajaan Mughal Islam.

Dari perjalanannya ke India tersebut Immawan Rijal Ramdani bisa mengambil kesimpulan bahwa India sedang mengalami tahapan menuju tingkat Kedewasaan dalam industrialisasi. Hal itu bisa dilihat dari perusahaan - perusahaan India yang hampir bisa dipastikan semuanya memiliki jaringan global. Keberhasilan Industrialisasi di India tidak terlepas dari kemajuan Teknologi dan Ilmu Pengetahun karena semakin banyaknya putra-putri terbaik India yang mengenyam pendidikan di kampus-kampus ternama Dunia. Hal lainnya yang patut dicontoh dari industrialisasi di India adalah seluruh perusahaan di India berdasarkan peraturan perudangan yang berlaku memiliki kewajiban untuk membayar Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar 6 persen dari total keuntungannya. Bahkan perusahaan Tata Services Consultan (TVS) sebagai perusahaan terbesar di India menghabiskan 25 persen dari keuntungannya untuk CSR. Sehingga dengan CSR yang begitu besar itulah bisa menjadi alat untuk menutup kesenjangan dan membangun jejaring pengaman bagi masyarakat misikin untuk bisa mendapatkan jaminan social. Dengan CSR yang begitu mengsankan itulah Peter Casey (2008) mengatakan bahwa TSV merupakan contoh terbaik dalam pendekatan kaptalisme baru yang ramah terhadap masyarakat miskin. Namun bagi Negara Indonesia patut untuk dicurigai bahwa India akan menjadikan Indonesia dan Negara-Negara di regional ASEAN lainnya sebagai pasar dari hasil produksi industrialisasinya. Walaupun di saat yang bersamaan Indonesia memiliki peluang untuk menjadi eksportir terbesar untuk menutupi kebutuhan dasar material dan bahan mentah sebagai penopang proses industrialisasi di India.

Selain Rijal. Dalam rangka merayakan usia Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang ke-50 tahun, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM juga memberangkatkan salah satu kader terbaiknya menuju Seoul Korea dalam acara International Youth Conference, yakni Ajar Pradika A. Tur yang aktif di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Yogyakarta. “Di usia IMM yang telah mencapai 50 tahun, arah gerakan IMM harus mulai atau bahkan sudah mendunia. Kita akan kirim kader-kader terbaik kita untuk mengikuti acara-acara internasional”, papar Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP IMM, Ela Nofitasari.

Keikutsertaan IMM dalam konferensi bertajuk “New Understanding of History in East Asia: From History of Conflict to the History of Shared Understanding” merupakan bentuk tanggungjawab dan dukungan IMM sebagai organisasi kepemudaan untuk ikut serta merancang dan menyelenggarakan perdamaian dunia di wilayah Asia Timur. “Sebanyak 53 pemuda yang berasal dari berbagai negara di dunia berkumpul di Seoul sejak 17 Agustus hingga 21 Agustus 2014 untuk membahas dan mendukung niat perdamaian di Asia Timur”, tutur Ajar Pradika. Peserta konferensi ke Demilitarized Zone (DMZ) yang memisahan Korea Utara dan Korea Selatan merupakan bentuk kesungguhan Korean National Commission for UNESCO dalam mengusung rencana rekonsiliasi seajarah ini. “Kami pun diberi kesempatan untuk berkunjung ke DMZ dan menyapa penduduk yang tersebar pada tujuh desa untuk mengetahui secara langsung kondisi konflik di sana. Pengawalan sangat ketat dan tidak diizinkan adanya kamera”, tambahnya. Pada acara tersebut, Prof. Filomeno V. Aguilar dari Filipina pun menyatakan bahwa acara ini diharapkan menunjang keberhasilan ASEAN Community yang telah kami rancang. Semata-mata untuk kejayaan Asia. Selain untuk menunjang rekonsiliasi sejarah, output forum ini adalah mengajak pemuda di seluruh dunia untuk peduli terhadap perdamaian dunia danmenginisiasi aksi-aksi nyata kepemudaan di kawasan Asia.

Tidak hanya India dan Korea. Pada tanggal 13 Agustus 2014 mendatang 6 diantara kader terbaik IMM juga diberangkatkan ke Penang Malasya untuk mengikuti kegiatan  Final Youth Jam Mereka adalah : Qahfi Romula Siregar (Ketum DPD IMM Sumut), Immawan Muhammad Amiri (Kader IMM DKI), Agus Salim Lamusu (Kader IMM Gorontalo), Nofri Julimet ( Kader iMM Sumbar ), Shiva Nur Azizah ( Kader IMM Banten ), Rifka Nurullita ( Kader IMM DKI ). Selain program-program internasional diatas IMM juga pernah terlibat pada pada kegiatan-kegiatan bergengsi lainnya seperti; Internasional Youth Conference 2013 Di Bahrain Semenanjung Arab, Asean – China Youth Campe 2013, Model United Nations 2014 di Den-haq Belanda, paris dan jerman).


Sumber : Web DPP IMM (Klik)
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 5 komentar

Hilmy Terpilih Menjadi Ketua PC IMM AR. Fakhruddin 2014-2015

Sleman—Regenerasi kepemimpinan sudah menjadi keharusan dalam sebuah organisasi. Berlokasi di Youth Center Sleman DIY pada tanggal 19-21 Agustus telah diadakan Musyawarah Pimpinan Cabang (Musycab) ke-XI Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta dengan mengambil tema “Peneguhan Kembali Ruh IMM sebagai Gerakan Mahasiswa Islam”.

Acara ini dihadiri oleh semua pimpinan Komisariat yang berada dibawah naungan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Selain membahas masalah fundamental dalam tubuh organisasi, juga membahas mengenai blue print gerakan dalam jangka 5 tahun kedepan secara sistemik. Harapannya, dengan adanya format gerakan yang lebih tersistematis, terencana, terukur dan terevaluasi mampu membawa gerakan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta menjadi pelopor gerakan di internal tubuh IMM dan gerakan mahasiswa secara umum.  

Terpilihnya Hilmy Dzulfadli sebagai Ketua Umum PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta mengemban beban besar: bagaimana melejitkan kembali secara struktural pemikiran dan gerakan khas kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta (baca: khittoh Gen Pemikiran), yang kini telah memiliki beberapa lembaga creative minority seperti Sekolah IMMawati (SEKIMM) dan Madrasah Korps Muballigh (MKM) termasuk MIM Indigenous School yang sudah berumur 10 tahun. Keberadaan Hilmy Dzulfadli yang berasal dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, memberikan harapan besar terhadap mobilitas dan progresifitas kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta  yang bisa dilakukan secara kolektif ditiap lapisan kader, Komisariat dan Pimpinan Cabang sendiri. (cm)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

GKM Dibalik Pembaca


Foto postingan dari Apri Tri Nugroho



Foto kiriman Alief Yoga Yogyakarta



Foto kiriman Muhammad Ramdhan Pare Pare
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Musycab IMM AR. Fakhruddin


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

IMM Butuh Laboratorium Kader

Yogyakarta—belakangan ini, seiring dengan semakin matangnya usia IMM yang tengah menginjak setengah abad. Semakin membuat kesadaran para kader terus membesar pula, khususnya tentang pentingnya eksistensi dan konsistensi IMM, baik secara pemikiran dan gerakan. Apalagi, arus gerakan mahasiswa yang kini sedang mengalami kejenuhan dengan minimnya menemukan bentuk gerakan baru, kian terjebak dalam agenda formalitas yang mengabaikan nilai-nilai dasar gerakan. Bahkan yang lebih parah timbul kegenitan dengan partai politik, yang pada tahap lebih jauh ruh gerakan mahasiswa mengambil jarak dengan realitas sosial, dikarenakan beragam kepentingan politik yang menyanderanya. Pada titik ini, IMM harus tetap berpegang teguh pada gerakan Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam enam penegasan IMM sebagai identitas mutlak.

Menanggapi kegelisahasan atas fenomina tersebut, Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PK IMM Fisipol UMY) mengadakan diskusi dengan tajuk “Penegasan jati Diri Ikatan: Mengembalikan Identitas Ikatan, Menguatkan Nilai Gerakan, Memahami Arah Gerak Perjuangan” pada hari Minggu 22 Juni 2014 bertempat di Multimedia Komunikasi Lt.1 UMY dengan pembicara Aminuddin Anwar, S.E., M.Sc. (penulis buku Genealogi Kaum Merah) dan Rijal Ramdani, S.IP., MPA. (pegiat MIM Indigenous School). Diskusi ini bersamaan dengan pelantikan pengurus baru PK IMM Fisipol UMY.

“Pemahaman tentang nilai dasar ikatan dalam tubuh IMM menjadi hal yang sangat penting. Hal ini untuk memberikan dorongan sebesar mungkin kepada para kader untuk mengekplorasi diri baik secara individu maupun secara kolektif dalam ruang-ruang perkaderan. Maka, pemahaman para kader terhadap perkaderan ikatan melalui falsafah training perkaderan akan mempermudah intenalisasi nilai dasar ikatan” jelas Aminuddin Anwar. Ia juga menjelaskan bahwa perlunya evaluasi terhadap program kebijakan dan perkaderan menjadi hal yang sangat mendesak dikarenakan budaya gerakan yang semakin kompleks. Bentuk evaluasi ini hanya bisa dilakukan apabila yang mengevaluasi juga memahami, mengerti dan mampu menggerakkan apa yang dievaluasi. Jika tidak, hasilnya dipastikan tidak ada perubahan apapun dan bagaimanapun bentuknya.

“Keberadaan lembaga creative minority atau labolatorium kader bisa menjadi alternatif dalam membentuk kemampuan, loyalitas dan progresifitas kader ikatan, sebagaimana telah dilakukan beberapa level pimpinan ikatan dalam buku Genealogi Kaum Merah yang telah kami terbitkan” pungkas Aminuddin Anwar. Baginya, beberapa lembaha creative minority mampu membangun akselerasi perkaderan secara informal. Ia pun mencontohkan MIM Indigenous School yang sudah berusia satu dekade sebagai lembaga lembaga creative minority PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Buku Genealogi Kaum Merah ditulis Aminuddin Anwar ia tulis dengan Makhrus Ahmadi.

Sedangkan Rijal Ramdani menjelaskan bahwa gerakan IMM, harus mampu menjadi magnet gerakan mahasiswa yang lain dengan ciri gerakannya yang khas. Artinya, mendobrak kebuntuan gerakan menjadi hal yang diperlukan. Terlebih, ditengah situasi jelang Pilres 2014, dimana patronase semakin merata. Baik dari kader ikatan, kader Muhammadiyah ataupun gerakan mahasiswa lainnya.

“Barangkali, gerakan yang berorientasi jangka panjang bisa memberikan solusi agar keberadaan IMM mampu mengambil yang lebih besar” ucap Rijal Ramdani yang juga sebagai senior dari PK IMM Fisipol UMY. (adm)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 2 komentar

Sekolah IMMawati: Wisuda Angkatan Ke-3




Yogyakarta—tanggal 22 Juni 2014 bertempat di Ruang Mini Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah diadakan wisuda Sekolah IMMawati(SEKIMM) PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta angkatan ke-3. 

Hadir dalam acara ini pimpinan Komisariat dibawah naungan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta, serta beberapa alumni SEKIM angkatan sebelumnya. Wisuda kali sengaja mengambil tema “Terbentuknya IMMawati yang Berkemajuan dan Menginspirasi Masyarakat” agar kedepan gerakan IMMawati mampu memberikan peran yang progresif dalam menghadapi segala bentuk tantangan zaman. Serta yang jauh lebih penting adalah bagaimana sekolah berbasis creative minority ini mampu memberikan banyak inspirasi dan gerakan kolektif dalam tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah secara luas dan tertata.

Gagasan terbentuknya SEKIMM pada awalnya, seperti yang dijelaskan dalam dasar pemikiran System Operational Procedure (SOP), SEKIMM berawal dari gagasan Bidang IMMawati dalam jajaran Pimpinan Cabang IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta periode 2011/2012 pada tanggal 11 Oktober 2011 yang saat itu dipunggawai oleh Fifin Permatasari (Kabid) dan Rr. Annisa Ratnaningrum (Sekbid). Hal ini dilakukan sebagai sebuah upaya untuk membina dan memberdayakan kader IMMawati agar mampu bersikap kritis terhadap wacana sosial serta menumbuhkan gender awarness. Disamping itu, kader IMMawati harus lebih progress dan membuktikan bahwa IMMawati mempunyai peran yang sangat penting serta mampu mengaktualisasikan religiusitas, intelektualitas, humanitasnya dalam rangka membangun keseimbangan dan keharmonisan dalam tubuh ikatan.

Berlalunya waktu, dengan adanya SOP SEKIMM yang mampu memberikan format bentuk dan materi kajian yang lebih teratur, terencana dan terjadual. Tak ayal bentuk lembaga creative minority khusus IMMawati dibawah naungan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta ini mampu menjawab sebagian kegelisahan tentang peran dan kiprah kader IMMawati. Sekalipun, kedepan senantiasa harus tetap dilakukan evaluasi program, pematangan konsep materi, hingga perluasan radius kelasnya. (cm) 

 Wisuda Sekolah IMMawati Angkatan Ke-2

  Wisuda Sekolah IMMawati Angkatan Ke-1

Sumber Foto :  
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Korkom IMM UMP Bedah Buku Genealogi Kaum Merah

Purwokerto—Diakhir periode Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (Korkom IMM UMP) mengadakan bedah buku Genealogi Kaum Merah pada hari Jum’at 13 Juni 2014 bertempat di Ruang Sidang FKIP UMP. Dalam bedah buku ini, hadir penulis Genealogi Kaum Merah Makhrus Ahmadi yang menyampaikan isi buku dengan cara diskusi interaktif. Hadir dalam kesempatan ini Ibnu Hasan, S.Ag., MSI. yang juga menjabat sebagai pembina Korkom IMM UMP dan Ketua PDM Banyumas dengan moderator Laillina Cahyanti selaku Ketua Korkom IMM UMP.

“IMM harus berada dimana-mana, tapi jangan kemana-kemana” papar Ibnu Hasan, yang mengiginkan kader IMM, khususnya IMM UMP mampu memberikan banyak  kontribusi positif atau sang pencerah dalam setiap aktivitas kemahasiswaan dan bermasyarakat. Apalagi, kader IMM sebagai kader intelektual akan menjadi pemimpin Muhammadiyah kelak dikemudian hari.

“Perkuat pemahaman akidah sebagai fondasi keimanan agar tidak terombang ambing dengan berbagai pemikiran yang menggerus keimanan. Serta perkuat pula kekuatan ilmu sebagai bekal mencapai kesuksesan dimasa depan” pungkas Ibnu Hasan. Baginya, kekhasan IMM karena ia hidup dalam masyarakat intelektual dikampus yang kadang menuntut hadirnya berbagai wacana pemikiran dan gerakan, sehingga membutuhkan kekuatan diri dalam menyaring berbagai wacana tersebut, yang pada akhirnya dapat pula berkontribusi dalam Muhammadiyah.

Selain memaparkan tentang isi buku Genealogi Kaum Merah, Makhrus Ahmadi juga mendorong IMM UMP agar membudayakan tradisi diskusi dan menulis, yang kini mulai mengambil jarak dalam tradisi gerakan IMM secara nasional. Hal tersebut, bisa dimulai dengan membawa tradisi membuat buletin dan majalah di IMM UMP menjadi tradisi menulis buku. Apalagi, literatur mengenai IMM begitu sangat terbatas. Dalam tahap yang lebih yang mikro, tradisi tersebut bisa dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan Blog dan media jejaring sosial sebagai cara membiasakan diri menulis bagi kader IMM.  

Pelaksanaan kegiatan ini tertepatan dengan Musyawarah Koordinator Komisariat (Musykorkom) IMM UMP yang direncanakan dilaksanakan selama dua hari yakni tanggal 13-14 Juni 2014 dengan mengambil tema “Progresifitas Ikatan Menuju Organisasi Propetik”. (adm)


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Diskusi Buku Genealogi Kaum Merah di Yogyakarta


Yogyakarta—Pada tanggal 11 Juni 2014, bertepatan dengan pelaksanaan Darul Arqam Madya (DAM) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah AR. Fahkhruddin Kota Yogyakarta yang dilaksanakan di BLK PAY Yogyakarta. Diskusi buku Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan berlangsung dan lancar. Dalam acara ini menghadirkan kedua penulis buku ini yakni Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar.

Diskusi buku ini sebenarnya merupakan bagian dari materi DAM “Gen Pemikiran IMM AR. Fakhruddin”, dimana notabene penulisan dan isi buku ini mengambil kasus gen pemikiran dan penelitian terhadap 80 responden kader IMM diseluruh Indonesia, disamping wawancara dengan para tokoh pendiri IMM itu sendiri. Diskusi ini pun berjalan secara dialektis mengingat sebagian besar peserta juga mengalami kebimbangan dan kegelisahaan selama berkader dalam tubuh IMM.

Selain itu, diskusi ini lebih menyoroti mengenai pentingnya internalisasi nilai dalam proses perkaderan IMM. Salah satunya menanamkan secara lebih massif mengenai ajaran dan paham Muhammadiyah dan IMM secara lebih serius. Tidak saja secara formal melainkan secara informal. Hal inilah yang menjadi kegelisahan peserta dan penulis buku ini: dimana dalam skala yang sangat mikro dan fundamental, masih banyak ditemui kader yang tidak hafal maksud dan tujuan IMM. Yang pada tahap yang lebih jauh akan mengaburkan identitas dan perjuangan ikatan yang sesungguhnya.

Buku Genealogi Kaum Merah, juga mendapat support dari para pengurus PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta dengan memberikan buku Genealogi Kaum Merah secara gratis kepada peserta DAM.

“Ini sebagai wujud apresiasi bagi para penulis yang notabene kader IMM AR. Fakhruddin yang aktif di MIM Indigenous School” pungkas Saladin Albany selaku Ketua Umum PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta dalam kesempatan yang berbeda. (adm) 
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Mahakarya MIM Indigenous School


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Dekade MIM Indigenous School


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 4 komentar

Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan





Judul               : Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan
Penulis            : Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar
Tebal Buku      : 308 halaman
Penerbit           : MIM Indigenous School&Rangkang Education
Tahun              : Mei, 2014
Harga              : Rp. 60.000 (Pasaran),
(Order langsung) ke MIM Indigenous School diskon 15% x Rp. 60.000 = Rp. 51.000 (diluar ongkos kirim)
Cara order langsung. Regestrasi dengan SMS dengan ketik (Nama pengorder/jumlah order/alamat penerima/nomor telpon) kirim ke  0857-234-56933 atau via Twitter dan Facebook @MIMIndigenous. Selanjutnya, pihak MIM Indigenous School akan mengkonformasi biaya ongkos kirim. Dan pengorder dipersilahkan Mentransfer (biaya buku+ongkos kirim) via BRI Syariah Yogyakarta 1006597951 a.n. Aditia Taruna MS. Barang akan dikirim, setelah ada bukti validasi pengiriman transaksi dari Bank pentranfer pihak pengorder.

  ...........................


Pengantar Penulis

Di kampus yang telah berparas pasar
Tikar-tikar digelar-gelar menjual sejumlah gelar-gelar
Lapak-lapak menjual loak-loak ilmu dan pengetahuan
Kiranya jual-beli,
sesungguhnya jelas terlihat disini
Teriakan obral penjual semakin nyaring berbunyi,
tak bersembunyi dari telinga pembeli
...
Usahlah dicari,
kuragu ada yang mau obrol-obrol diskusi,
tentang advokasi,
tentang diskriminasi,
tentang liberalisasi,
tentang marginalisasi,
dan, apalagi tentang demonstrasi!

Usahlah dicari,
kuragu ada yang menjadi aktivis
yang biasa obrolkan sosialisme
yang biasa obrolkan komunisme
yang biasa obrolkan nasionalisme
yang biasa obrolkan modernisme
yang biasa obrolkan humanisme
yang biasa obrolkan liberalisme
yang biasa obrolkan kapitalisme
dan, apalagi yang biasa mencaci hedonisme!
..
Ah. Siapa peduli!?
Jika air lebih banyak dibanding api
Terhanyut sanubari, tenggelam hati
—Pasar Gerlar: Muji Suseno

Memasuki setengah abad atau menapaki satu abad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1964-2014). Bukanlah usia yang singkat bagi sebuah gerakan mahasiswa Islam dan ortom Muhammadiyah. Sebab, pada rentang masa ini, eksistensi IMM selalu menemukan momentum: dalam mengukir sejarahnya sendiri. Entah, terkait persoalan internal maupun persoalan eksternal organisasi sebagai medan juang yang senantiasa memberi nafas panjang dialektika perjuangan. Namun, ditengah hiruk pikuk dialektika tersebut, acapkali masih hadir pertanyaan terkait peran pemikiran dan gerakan IMM selama ini. Hal ini didasarkan pada evolusi gerakan IMM yang dituntut menghasilkan sebuah gagasan besar, yang mampu menjadi gagasan sistemik kader secara nasional. Bahkan gagasan tersebut bukan hanya berbentuk wacana belaka, tapi menjadi gerakan khas yang berasal dari basis nilai dan identitas IMM. 

Proses dinamisasi pemikiran dan gerakan IMM seakan silih berganti, yang ditandai dengan maraknnya fenomena pergantian struktur kepemimpinan, selalu diiringi dengan pergantian akar pemikiran dan gerakan. Sehingga, adanya pluralitas pemikiran dan gerakan menjadi hal niscaya terjadi dalam tubuh IMM—disamping tidak berasal dari satu rumpun keilmuan yang sama, serta basis paham kultural yang lahir dari keluarga Muhammadiyah. Tetapi hal tersebut, tidaklah menjadi alasan untuk tidak menciptakan garis dasar pemikiran dan gerakan yang dilandasi oleh nilai dan identitas IMM. 

Salah satu bukti otentik yang mampu menjawab hal tersebut diatas, yakni: persoalan masih kurangnya kajian tentang IMM. Baik dari segi pemikiran maupun gerakan yang dapat diketahui dari kurangnya literatur dasar tentang IMM. Sekalipun ada literatur tentang IMM, hal tersebut masih menggunakan pendekatan historis dan cenderung mengabaikan pendekatan futuristik yang lebih progresif dan kritis. Bahkan celakanya, beberapa literatur yang membahas masalah IMM tidak banyak dikenal dikalangan para kader—sebagai bentuk literatur dan kajian yang bisa diperdalam sebagaimana dijelaskan dalam Bab I dan Bab IV buku ini. Sehingga, hal tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi tiap level pimpinan, khususnya Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM: bahwa acuan bacaan dasar mengenai IMM, ternyata tidak secara optimal dimanfaatkan sebagai kajian awal untuk memahami IMM secara utuh. 

Kondisi lainnya yakni “sangat minimnya” kepedulian dan inisiatif dari pimpinan pada tiap level kepemimpinan, untuk membumikan IMM sebagai objek kajian maupun mencoba mentransformasikan kajian yang telah ada sebelumnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan kurang tersedianya buku kajian dasar tentang IMM yang bisa dilakukan pencetakan ulang sebagai sarana untuk membumikan nilai historis dan nilai dasar gerakan IMM terhadap para kader. Selain itu, tingkat produktifitas kader dalam menghasilkan karya khususnya kajian tentang IMM juga terbilang masih minim. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu: pertama, keengganan kader ataupun struktur pimpinan untuk menelaah ulang sejarah IMM dan mencoba menjadikan IMM sebagai salah satu objek kajian yang penting secara internal IMM, maupun dalam ranah akademis. Kedua, IMM tidak terlalu menarik sebagai objek kajian oleh orang di luar IMM, yang kemungkinan besar karena tidak mengetahui mengenai seberapa besar peranan IMM sebenarnya pada ranah-ranah tertentu.

Ditengah mencari jawaban pertanyaan yang mengkhawatirkan tersebut. Kegelisahan pun muncul, ketika pada level cabang IMM Cabang AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta menghadapi kondisi yang sangat plural: baik pemikiran, pembacaan (analisis) isu maupun implementasi gerakan. Ketiadaan pendekatan yang termanifestasikan dalam bentuk gen pemikiran ala IMM menjadikan kerangka gerakan IMM juga mengalami implementasi yang beragam. Isu-isu sentral yang seharusnya menjadi bagian dari kajian IMM—atau sebagai bagian dari pengejawantahan pemikiran juga menjadi beragam dan cenderung reaksioner. Hal tersebut menjadi refleksi dan evaluasi besar bagi ikatan untuk menformulasikan nilai dasar, corak pemikiran dan identitas gerakan IMM secara utuh. Pengembangan dari kegelisahan tersebut kemudian diimplementasikan dalam bentuk model perkaderan non-formal, yang merupakan pengembangan kapasitas intelektual pasca perkaderan formal. Desain dan tahapan dari model tersebut diimplementasikan sebagai bentuk orientasi pemikiran tertentu menjadi implementasi gerakan, yang muncul ketika tahapan-tahapan gen pemikiran dapat terlalui secara sistemik. 

Inilah evaluasi besar bagi IMM saat ini. Saat gerakan mulai tidak mampu menjawab tantangan zaman ditengah perubahan konteks dinamika sosial, politik, ekonomi dan keagamaan yang seiring sejalan ikut berubah. Sementara IMM mengalami kemapanan pemikiran dan gerakan (jumud) yang ditandai dengan susah untuk beranjak sesuai kondisi zaman. Maka, ditengah ragam pesimisme yang kian membesar tersebut. Penguatan terhadap fondasi dasar dari nilai dan indentitas IMM harus ditangkap sebagai ruh untuk memperbesar radius ragam perubahan, sekaligus memberikan penyempurnaan terhadap semangat nilai dan identitas ikatan. Artinya, terbukanya kran ijtihad pemikiran dan gerakan oleh segenap unsur dalam tubuh IMM merupakan hal yang tidak bisa ditolak, untuk menciptakan gelombang gerakan yang lebih kreatif dan inovatif dalam menapaki setengah abad IMM, tanpa harus kehilangan genealogi dirinya sebagai gerakan “kaum merah” yang progresif.

Buku ini merupakan bentuk kajian terhadap gen pemikiran kaum merah, yang mengakar kuat dalam tubuh organisasi modernis-reformis Muhammadiyah. Bentuk pengakaran tersebut ditandai dengan hadirnya semangat melakukan perubahan dalam setiap pemikiran dan gerakannya. Apalagi, usia gerakan kaum merah ini sudah hendak menapaki satu abad, yang pada tahap tertentu akan menimbulkan corak pemikiran dan gerakan yang khas. Sebab itulah, dengan meminjam genealogi Michel Foucault, kajian buku ini tidak hanya ingin menghadirkan kembali gagasan dengan pendekatan historis, tapi juga secara empirik: tentang bagaimana pemikiran dan gerakan yang dipahami dan digerakkan oleh para kader saat ini. Sehingga, harapannya buku ini mampu membangunkan kembali semangat ruh perubahan, kreatifitas berfikir dan bergerak, serta progresifitas cara bermimpi secara radikal. 

Penyebutan kaum merah dalam kajian buku ini, lebih diorintasikan pada—Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yang memiliki identitas “simbol merah” sejak kelahirannya hingga kini. Jadi, penyebutan kaum merah, bukan secara serta merta menjadi identitas tunggal dari sebuah gerakan dan ideologi revolusioner tertentu. Melainkan identitas simbol warna universal, yang bisa digunakan oleh siapun dan gerakan apapun, untuk menunjukkan jati diri dan gagasannya. Selain itu, kami menyebut buku ini sebagai trilogi, setelah sebelumnya telah terbit: Rahim Perjuangan (2009) dan Tak Sekadar Merah (2013). Serta untuk memperingati satu dekade MIM Indigenous School. Hal ini merupakan ijtihad kami yang sering berdiskusi di MIM Indigenous School sebagai lembaga creative minority IMM Cabang AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta, untuk memberikan kontribusi gagasan yang bersifat kajian formal akademik dan studi empiris sebagai bahan evaluasi dan refleksi bersama di setengah abad IMM atau menapak satu abad IMM. 

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak—IMMawan dan IMMawati, yang telah banyak membantu dalam proses penulisan buku ini diantaranya: Drs. H. A. Rosyad Sholeh yang telah berkenan memberikan prolog, Elida Djazman, Sjamsu Udaya Nurdin, Drs. HM. Alfian Darmawan, Muhammad Sobar, S.EI., MSc. dan Khotimun Sutanti, SE. yang telah meluangkan banyak waktu sebagai narasumber. Mohammad Nizar, S.IP., MA. atas epilognya. Rekan-rekan responden kader IMM yang telah kami sibukkan waktunya, maaf tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Halim Sedyo Prasojo, SE., M.B.A—official project leader, filantropis semua project “gila” tentang cara bermimpi dan gagasannya tentang “burjois sholeh”. Cehar Mirza, S.IP., Deriana Putera Pamungkas, S.EI., Ahmad Syaifuddin, SH., Leni Susanti, S.Kep.Ners. kapan lagi kita menjaga kuburan jam 2 pagi, hanya untuk menunggu menunggu kalimat “IMM berapa?”. Serta DPD IMM DIY 2010/2012 diskusi dan kebersamaan bersama kalian tak pernah menjemukan. 

Para pegiat di MIM Indigenos School: Aditia Taruna MS, Janan Febrianto, Farhan Lutfi, Muhammad Rifandi, Rijal Ramdani, Jenal Nurfalah, Muji Suseno, Afif Noor Fauzi, Saifullah Ghozali, Rohmad Qomaruddin, dan semuanya. Para tentor dan pegiat senior Prof. Dr. Abdullah Sumrahadi, MA., Drs. Husni Amriyanto, M.Si., Nurwanto, S.Ag., MA. M.Ed., Fauzi Fashri, S.IP, MSi, Faisal, SH., MH., Darwiatik Sabista, SIP., Zain Maulana, S.IP, MA., Faris Alfadh, S.IP, MA., Irvan Mawardi, SH., M. Shaleh Farabi, S.EI., Cahyo Prabowo, SE., Andri Syah, SE. M.ec.Dev. dan semuanya. Rangkang Education David Anthony, SH.,  dan Agung Mapa.

Terakhir, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya. Semoga buku ini, memberikan manfaat bagi seluruh kader IMM. Dan kami pun membuka pintu lebar-lebar atas saran dan kritiknya. 

Purwokerto-Yogyakarta, 9 Mei 2014
Makhrus Ahmadi
Aminuddin Anwar

... Sebuah Testimoni.

Kehadiran buku “Genealogi Kaum Merah” karya Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar ini, patut untuk menjadi referensi dan renungan bersama dalam tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sudah memasuki usia setengah abad. Buku ini tidak saja menyajikan tentang gerakan dan pemikiran dalam tubuh IMM. Tapi juga menyajikan data empirik pemikiran kader dengan sampel hampir merata di seluruh Indonesia, sehingga kebutuhan gen pemikiran IMM sebagaimana dikonsepsi dan dioperasionalkan dalam gambara buku ini, bisa membumikan lebih luas enam penegasan.
Drs. H. A. Rosyad Sholeh. (Salah Satu Deklarator Pendiri IMM)

Semoga buku karya ini memberikan banyak tambahan terhadap khazanah ke-IMM-an kepada kita, karena sependek pengetahuan saya, sangat sedikit referensi buku mengenai IMM. Kelahiran buku “Genealogi Kaum Merah, Pemikiran dan Gerakan” ini mudah-mudahan memberikan semangat bagi kader-kader IMM untuk berkarya agar referensi tentang IMM menjadi semakin kaya
Halim Sedyo Prasojo, SE., M.B.A. (Official Project Leader MIM Indigenous School)

Buku ini hadir dalam rangka ekspresi menebar kegelisahan bersama, agar terjadi perubahan simultan dan serempak bagi IMM kearah perbaikan yang secara harapkan bersama. Maka, perlu adanya diseminasi gagasan yang kemudian dikolaborasikan dalam sebuah karya yang diberi nama “Geneologi Kaum Merah”. Dari judul ini kita bisa menelisik bahwa terdapat keterputusan pemikiran IMM dari generasi kegenerasi, yang sifatnya geneologis, menumbuh dan berjejaring. Maka, dari itu perlu kita sambungkan dalam bentuk sebuah tulisan.
AditiaTaruna MS (Direktur MIM Indigenous School)

....................


Sebagian dibalik buku ini ada:
 ... Kata Mereka, Tentang Setengah Abad IMM

Pesan saya dalam rangka memperingati setengah abad IMM, agar IMM kembali menggali enam penegasan sebagai identitas IMM supaya tidak kemana-mana: apa itu IMM?
Drs. H. A. Rosyad Sholeh
Salah satu deklarator berdirinya IMM dan Mantan Ketua DPP IMM

Diusia IMM yang yang setengah abad ini, bagaimana kader IMM mampu membangun kebanggaan dan percaya diri. Ketika kader IMM tidak bangga, maka tidak anda tidak akan mengatakan siapa dirinya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan menunggu peran, anda harus mengambil peran. Dalam perjuangan tidak ada kata terlambat, yang ada hanya kata tidak mau.
Drs. Alfian Darmawan
Sekjend DPP IMM 1975-1978

Saya tidak mengharapkan kalian menjadi politisi. Dan tidak melarang kalian masuk partai politik atau bekerja sebagai wirausahawan. Tapi, saya mengharapkan kalian bisa berfikir menjadi seorang negarawan. Semoga tuhan menurunkan rahman dan rahimnya kepada kita semua. Masa depan IMM akan cerah dengan berfikir sebagai negarawan, meski tidak menjadi ketua partai.
Sjamsu Udaya Nurdin.
Salah satu deklarator berdirinya IMM

Makna dalam lagu “cendekiawan berpribadi” itu, kalau didalami tinggi betul maknanya. IMM sudah dari lahir berbicara tentang kualitas moral. Cendekiawan berpribadi adalah kepribadian Muhammadiyah. Kita memasyarakatkan kepribadian Muhammadiyah dengan berkualitas. Kita sudah berbicara tentang negara. Dan sekarang, negara berbicara tentang kualitas moral—kita sudah berbicara 50 tahun yang lalu.
Elida Djazman
Kabid IMMawati pertama dan Istri Alm. Djazman Alkindi

Kader IMM yang baik paham betul akan ideologinya. Mereka memadukan loyalitas dan militansi sebagai wujud integritas pengabdian kepada persyarikatan, ummat, dan bangsa. Patut diingat, IMM adalah rumah intelektual dan pergerakan. Terus berkarya dan berfastabiqul khairat.
Ahmad Baits Diponegoro
Mantan DPP IMM

Setengah abad bukan perjalanan yang singkat. Lika liku perjalanan IMM akan menjadikan organisasi ini semakin matang dan berjaya. Setelah setengah abad, IMM harus mampu melewati segala tantangan dan mencetak kader-kader yang mampu membawa perubahan bagi Muhammadiyah, bangsa, negara dan agama. IMM never die, jayalah selalu IMM.
Ahmad Ahid Mudayana, SKM., MPH.
Mantan Kabid Hikmah DPD IMM DIY dan Sekprodi IKM UAD

Harapan besar adalah IMM tak sibuk dengan politik belaka tanpa memikirkan kader bawah yang sudah muak dengan tingkah laku para petingginya yang tidak punya mainstream.
Tsauroh Arrisalati
DPD IMM DKI Jakarta

IMM bisa mengaplikasikan dan membumikan apa yang ada di dalam SPI. Menanamkan secara kuat jiwa militansi dan progressifitas. Menginternalisasikan nilai-nilai Islam dan ajaran-ajaran K.H. Ahmad Dahlan
Nuzula Syifaul Khujun
IMM Kebumen

Raih yang tertinggal, bekukan yang telah dicapai merupakan suatu hal untuk tetap eksis dengan mengutamakan ghiroh dasar IMM sebagai ungkapan kembali ke khiitah gerakan
Cholish
Kabid Keilmuan DPD IMM SUMUT

Kader-kader IMM harus cerdas dan solutif, intelektualprofetik itulah pegangannya, sehingga harapannya semua kader IMM kalau terjun untuk berpolitik, selalu menggunakan high politic.
Falaq Fazarudhin
IMM Universitas Brawijaya Malang

IMM menjadi jauh lebih baik, tidak berpolitik praktis, mampu memberikan pencerahan terhadap golongan muda terkhusus yang masih labil dalam rangka mendidik generasi muda, lebih mengamalkan Trilogi IMM sebagai pola dan jati diri yang tertanam erat dalam pribadi masing-masing kader.
Abdulloh Ubaid
IMM UNESA
 
Selanjutnya, temukan di buku ;)


Read more...