Slide 1 Slide 2 Slide 2 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Tampilkan postingan dengan label Forum. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Kehidupan di Pedesaan Finlandia


Oleh : Rijal Ramdani (Pegiat MIM Indigenous School)

Selama Dua hari, saya menginap di perkampungan Finland, tepatnya di Kolli, sangat Timur sekali, hampir berbatasan dengan Republic of Karelia, Russia. Kurang lebih 100 km dari kampus saya. Rumah yang saya tempati hanya satu-satunya, berada di tengah hutan sebuah taman National. Rumah yang saya tempati ini, ditinggali oleh sepasang suami istri yang masih muda. Keduanya mendedikasian diri dengan hidup di hutan, kembali kepada alam. Photo-photo yang saya upload menggambarkan aktivitas keseharian dan lingkungan di sekitar mereka.

Photo pertama, photo rumah view dari belakang, warna merah, semuanya terbuat dari kayu, tidak ada bahan semen sama-sekali. Sangat kuat, menggunakan kayu gelondongan. Ini tipikal rumah di Nordic, tebal sekali, disesuaikan dengan kebutuhan saat musim dingin tiba. Ada juga corong perapian di atasnya, biasa digunakan di musim dingin secara tradisional dengan membakar kayu di dalam rumah.

Photo kedua, si pasangan suami istri sedang bekerja di kebun samping rumah, menanam kentang. Saya ngobrol, kata mereka dari satu butir kentang yang ditanam jadinya menjadi lima butir, dalam waktu Dua bulan sudah dipanen. Hasil panen cukup untuk mereka makan dalam beberapa bulan.

Photo ketiga, pagi-pagi sekali. Si istri ngasih makan ayam juga menaro air untuk minum ayam-ayam itu. Ini ayam kampung, bukan ayam broiler, di photo selanjutnya di album ini, pembaca juga akan melihat telor yang dipanen setiap pagi oleh si istri. Saya tanya si istri, apakah ayam-ayam itu untuk dikonsumsi, dia bilang "Tidak, kami sudah menganggap mereka sebagai keluarga. Jadi kami hanya makan telornya" kata dia. Saya tanya lagi, "Kenapa ayamnya nggak dibiarkan maen aja? Kan kasihan kalau terus seharian di kandang?" Si istri menjawab "Ya, kami melepasnya saat tanaman-tanaman sayuran kami sudah besar. Karena ayam suka makan tanaman-tanaman yang baru ditanam".

Photo ketiga, adalah sapi-sapi nordic peliharaan mereka. Jumlahnya ada tujuh. Imut-imut sekali. Sapi nordic ini termasuk binatang langka. Mereka tidak mengambil dagingnya, tapi mengambil susunya untuk diminum. Kotorannya dipakai untuk pupuk tanaman.

Dan photo keempat, anjing mereka, di pintu masuk rumah bagian belakang. Namanya Kattie. Di masyarakat Finland, anjing memiliki kedudukan yang spesial. Saat saya tanya "What is his name?" Mereka menjawab "No no, no his, but her name?" Jadi harus hati-hati, jenis kelamin anjing tidak boleh salah. Anjing ini baik sekali, tinggal di dalam rumah, tidur dikamar bersama suami istri itu. Dia akan menggonggong kalau ada pendaki gunung yang lewat.

Photo-photo selanjutnya adalah photo tanaman-tanaman sayuran yang mereka tanam baik di luar maupun di dalam rumah kaca plastik. Rumah kaca plastik, mungkin untuk tanaman di musing dingin. Jenis-jenis sayuran yang ditanam, ada seledri, pakcau, terung, labu, tomat, dll. Ada juga perkakas untuk angkut tanah. Banyak perkakas lain, tapi saya photo satu aja. Perkakas lain misalkan mesin pemotong rumput, dll.

Pasangan suami istri ini juga menyukai bunga yang ditaro di depan rumah, digantung, atau di pot-pot di depan rumahnya. Di sekeliling rumah mereka juga banyak sekali bunga liar. Saat di pagi hari bangun tidur, saya nongkrong sama professor saya di depan rumah, si istri keluar, dan memetik bunga-bunga liar itu. Saya tanya professor saya, ternyata bunga-bunga liar hutan itu, dan bahkan rumput-rumput hutan, menjadi rempah untuk bikin sup, kue, roti, dan salad. Saya pun memetiknya dan mencoba memakan bunga-bunga liar dan rumuput-rumput liar itu.

Photo selanjutnya jemuran, tempat di mana si suami istri dan juga saya, menjemur pakaian, saya jemur handuk. Bangunan di sampingnya adalah gudang penyimpanan alat-alat dan barang-barang. Tapi di atasnya ada dua kamar yang bisa ditiduri. Professor saya, tidur di salah satu kamar itu, kata dia ingin saat bangun mendengarkan bunyi sahutan burung hutan, yang memang burungnya banyak sekali.

Sementara photo berikutnya, bangunan kecil warna merah adalah WC, toilet. Ini special. Saya menggunakannya juga. Toiletnya nggak ada air. Cebok pake tissue, nyiram tinja atau urin pakai tanah dan serbuk gergaji. Tinja dan urin ditampung di thank besar. Walau keringan, tapi sama sekali tidak bau, wangi. Karena penasaran saya nanya ke si Istri. Kata dia tidak bahu karena disiram tanah dan serbuk kayu itu. "Why you do not use water?" Tanya saya lagi. Si istri menjawab, air tidak ramah, boros, setiap pijit water toilet, maka 8 litter terbuang cuma-cuma, belum untuk cebok katanya. Kata dia, suaminya lah yang mengelola tinja-tinja itu, saat thank nya sudah penuh.

Dua photo berikutnya adalah photo sauna traditional dengan menggunakan kayu bakar. Saya sauna satu kali, rame-rame sama temen-temen cowo. Giliran saunanya setelah group temen-temen perempuan. Dan saya baru tahu, ternyata sauna di Finland bener-bener naked. Saya sendiri yang tidak naked, pake celana pendek, celana renang. Setahu saya walau sama-sama cowo ada batasan aurat juga. Biasanya di apartemen saya sauna sendiri. Tentunya juga, saat sauna dengan mereka saya minum teh, tidak minum bir seperti temen-temen yg lain. Oh ya di rumah ini nggak ada shower room, mandinya hanya sauna. Jadi nggak bisa mandi.

Photo berikutnya, kamar tempat saya dan teman-teman nginep di lantai 2 rumah ini. Ada juga ruang setrika, perpustakaan kecil dan pemandangan dari kaca jendela kamar. Oh ya, karena ini musim panas, di Finland saat ini sama sekali tidak ada gelap selama 24 jam. Terang benderang, jam 11 malam - jam 1.30 am, agak samar-samar tetep aja terang. Jadi ya seru, harus tutup jendela. Jam 2.30 am saya shalat subuh, itu kesiangan, karena jadwalnya jam 1.50 am. Temen saya dari Colombia heran, nanya "Loe tadi ngapain jungkak-jongkok, jungkak-jongkok? Tanya dia saat jalan-jalan pagi. "I did prayer. I do it five times a day" Jawab saya, dia pun angguk-angguk.

Terakhir photo danau dari puncak ketinggian bukit Kolli taman nasional. Danaunya indah sekali banyak pulau-pulau kecil di tengahnya. Sementara photo-photo makanan itu adalah makanan-makanan yang saya makan selama nginep yang dipasak pasangan suami istri itu. Semuanya vegetarian, tentunya tidak ada nasi, orang Finland jarang sekali makan nasi, makanan utama roti dan kentang.

North Karelia, 14 Juni 2019

Repost dari akun Facebook Rijal Ramdani (klik)




Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Kuliah Doktoral dan Publikasi di Finlandia

Oleh : Rijal Ramdani (Pegiat MIM Indigenous School)

Untuk bisa lulus S3 di Finland syarat utama harus memiliki publikasi di Jurnal sebanyak 4 artikel. Capture photo di bawah merupakan publikasi co-author PhD pertama saya, di Journal of Land Use Science, Tylor & Francis. Berdasarkan Scimago Jr, termasuk Q1, terindex Scopus, Thomson, dan Social Science Citation Index (SSCI). Alhamdulillah dalam prosesnya, bersama penulis lain saya ikut merumuskan ide naskah awal, judulnya, terjun 4 kali ke lapangan mengumpulkan data, dan ikut menulis di seluruh sub-bagian papernya.

Informasi tentang kewajiban publish 4 artikel untuk PhD di Finland, saya peroleh pertama kali sekitar bulan Mei tahun lalu dari calon supervisor saya, prof. Irmeli, melalui email. Kata dia, dia mau membimbing saya kalau bersedia publish sebanyak 4 artikel. Syarat utama dari kampus 3, tapi khusus di lingkaran tim risetnya, Natural Resources Research Group, harus 4.

Membaca email itu, pikiran saya langsung konek ke Scopus. Otak penuh pertanyaan, apakah bisa? Apakah saya mampu dalam waktu 4 tahun harus publikasi 4 artikel? Bukan kah banyak kolega bilang publish di jurnal Internasional itu susah dan memakan waktu bertahun-tahun? Namun dengan niat ingin belajar, bismillah, maka saya pun membelas email Irmeli itu bahwa saya siap untuk publikasi 4 artikel.

Sampai di Finland, di hari pertama ketemu Irmeli, saat makan siang di kantin kampus, saya langsung to the point, nggak basa-basi. "Irmeli, saya memiliki pengalaman riset di Indonesia, dalam beberapa tahun ini, tapi jujur saya belum pernah publikasi di Jurnal Internasional sama sekali, tolong bimbing dan ajari saya, publikasi 4 berat bagi saya. Saya siap mengikuti seluruh arahanmu. Saya ingin jadi mahasiswa baik dan bisa publikasi". Mendengar itu, Irmeli anteng-anteng aja makan, padahal saya sangat serius. Kebetulan saya tidak berselera makan. Pertama kali cicipi makanan Finland kurang pas dilidah; nanas mentah diblander, dicampur parudan timun, taburi engkol mentah dan tomat cincang, plus roti kering, itulah menu makan siang nya, aneh.

Irmeli pun kemudian merespon, minta saya ketemu dia satu minggu lagi. Kami menjadwalkan pertemuan. Saya pun ketemu dia di ruang kerjanya. Dia menjelaskan bagaimana langkah-langkah saya kuliah, mata kuliah yang diambil, list bahan bacaan wajib, kewajiban conference 4-5 x, sampai akhirnya penjelasan publikasi. Inilah yang paling saya tunggu. Kata dia, Disertasi itu terdiri dari Introduction, Framework, Research Method, Conclusion, plus 4 paper publish. Mengerjakannya dibalik, nulis dulu paper 4 dengan mengacu ke research proposal, baru nanti diakhiri dengan menulis introduction, framework, research method dan conclusion. Irmeli pun ngasih contoh Disertasi senior yang udah jadi, buku tipis tidak sampi 65 halaman, tapi saya check benar saja, ada 4 publikasi di dalamnya, semua di Jurnal ternama Elsevier.

Untuk publikasi PhD ini, 3 paper wajib sebagai penulis pertama, satu boleh sebagai second author, seperti publikasi pertama saya itu. Tapi kalau sebagai second author, kita harus menjelaskan dibagian mana sajakah kita memberikan kontribusi dalam penulisan paper itu. Makanya saya di atas jelaskan detail. Menulis paper tidak harus dengan supervisor, bisa dengan siapa saja, silahkan, bebas. Supervisor, sekalipun membimbing, mengarahkan, bahkan membantu dengan detail arah tulisan paper kita, tapi kalau dia tidak ikut menulis, maka mereka tidak mau untuk dicantumkan namanya. Ini ethicnya dalam authorship di Finland. Rsearch ethics mata kuliah wajib. Mereka, supervisor, mau dimasukan namanya, kalau ikut menulis sebagaimana kita menulis. Misal, dalam paper kedua saya, yang sudah disubmit 1,5 bulan lalu ke Forest Policy and Economics, Elsevier, Irmeli membimbing, memberikan masukan, bahkan sampai ikut mengedit kalimat tulisan saya yang kacau di bagian conclusion. Tapi Irmeli tidak mau dimasukan sebagai co-author. Kata Dia, ini bagian dari kewajiban dia sebagai pembimbing. Kalau mau masukan namanya, dia harus ikut memberikan ide awal dan ikut menulis seperti saya. Ini patut dicontoh oleh kita yang muslim, malu, sekularisme sudah mampu membangun etical justificationnya.

Selanjutnya, Irmeli menekankan untuk publish hanya di Jurnal yang masuk list JUFO. Di Finland untuk mengukur kualitas jurnal menggunakan peng-index JUFO namanya, indexing milik Finland sendiri. Ranking nya mulai 1 - 3, dari terendah ke tertinggi. Rankingnya JUFO ini lebih tinggi dibanding Scimago Jr, milik Elsevier. Misalkan paper co-author pertama saya itu, berdasarkan Scimago Jr termasuk Q1, tapi di JUFO levelnya hanya 1. Beda dengan paper Ke-2 yang sudah disubmit ke Elsevier itu, walaupun sama-sama Q1 berdasarkan Scimago Jr, tapi di JUFO levelnya 2, karena H-index nya jauh lebih tinggi. Di kampus saya, University of Eastern Finland, tidak boleh publish di Jurnal yang tidak masuk list JUFO walaupun terindex scopus atau web of science. Biasanya yang masuk dilist JUFO adalah jurnal-jurnal di database Elsevier, Tylor & Francis, dan Willey Online Library. Kalau PhD ingin cumlaude, harus bisa publish di jurnal level 3 berdasarkan JUFO. Dalam bidang saya yang masuk level 3, saya check baru nemu 2, yaitu World Development, Elsevier, chief editornya Arun Agrawal dan Journal of Peasant Studies, Tylor & Francis, Chief editornya Borras Jr. Kedua-duanya Jurnal kelas berat. Irmeli punya publikasi di World Development. Sekelas Policy Studies Journal (PSJ) aja masih level 2.

Untuk bisa publish tentu tidak mudah. Tapi kita tidak boleh pesimis dan apatis. Yang diperlukan adalah keinginan untuk belajar dan terbuka untuk menerima kebenaran baru. Alhamdulillah di kampus, saya mendapatkan fasilitas untuk belajar publikasi itu. Mata kuliah seperti sudah disetting bagaimana supaya mahasiswa PhD bisa publish. Misal, mata kuliah English for Doctoral Students, fokus mengajarkan bagaimana menggunakan dan memainkan grammar untuk abstract, introduction sampai conclusion saat menulis paper. Begitupun mata kuliah "How to Write an Internasional Article", dipandu seorang professor, guess editor Scandinavian Journal of Education Research, mengarahkan cara membangun logika paragraph per paragraphnya dari mulai Intro sampai Conclusion. Ditambah dengan mata kuliah "Research Publication", yang langsung mendatangankan Chief Editor dan Reviewer Journal. Mereka menjelaskan bagaimana kriteria penilaian journal-journal di Elsevier dalam menerima atau menolak suatu naskah. Gimana menulis cover letter, dan bahkan gimana cara menjawab komen dari reviewer saat kita harus merevisi.

Ditambah dengan professor pembimbing yang sangat-sangat akomodativ, membantu, benar-benar mengarahkan, super sabar menghadapi manusia kaya saya yang kadang lambat paham. Professor di Finland pasti punya seabreg publikasi. Mereka rata-rata guess editor di jurnal-jurnal terkemuka. Kalau menulis bareng dengan mereka, kita belajar banyak. Kalau tidak menulis dengan mereka, mereka tetap akan sabar mengarahkan. Saya nyaman dalam hubungan dengan professor di sini, penuh persahabatan, santai, bahkan sudah seperti ibu sendiri. Tapi orang Finland kerjanya santai, tidak terburu-buru, tenang dan harus fokus. Tidak boleh mengerjakan paper dua bersamaan, tidak boleh nulis atau baca hari Sabtu atau Minggu, karena Dua hari itu wajib Liburan. Orang Finland hanya bekerja saat jam kantor dan hari kerja saja. Kerjanya sangat efektif & efisien, gajinya besar. Makanya mungkin kenapa mereka termasuk Negara yang bahagia.

Sebagai penutup, saya termasuk yang mendukung dengan Publikasi di Jurnal Internasional, terindex Scopus, Thomson, atau SSCI. Pertama, ini trend dunia saat ini. Saya betul-betul merasakan dalam dunia akademik di Eropa atau Nordic countries khususnya, reputasi seorang ilmuan dilihat dari publikasinya. Kalau ada yang bilang publikasi ini sebagai jerat kapitalisme, komersialisasi, bla-bla, terus alternative lain untuk mengkomunikasikan temuan dan ide kita dengan ilmuan lain di bidang kita di dunia ini harus melalui apa? Kalau mahal akses? Elsevier, Tylor & France, dan Willey Online Library ngasih kesempatan Green Open Access. Bisa kita gunakan. Atau melalui researchgate.com, tahun 2016-2017 saya sering minta paper ke professor-professor terkemuka, mereka ngasih, cepet responnya.

Kedua, berbeda dengan buku, publikasi di Jurnal ada quality control dan ada discussionnya. Paper kita akan direview oleh ahli di bidang Ilmunya untuk diterima atau ditolak. Kalau tidak memberikan kebaruan, tentu akan ditolak. Kalau masih ada kekurangan, harus direvisi berkali-kali misalkan, ada proses kehati-hatian dan ada proses belajarnya. Paper co-author PhD pertama saya itu diriject 1x, lalu pindah ke journal Land Science itu, revisi 4 x selama 9 bulan, baru publish. Saya bersyukur, karena reviewernya betul-betul mengarahkan, memberikan bahan bacaan, dan mengoreksi detail bahasanya. Ini proses belajar. Kalau menulis buku, bagaimana quality controlnya? Siapa yang review? Gimana kalau apa yg kita tulis itu salah misalkan? Dalam ilmu sosial efeknya mungkin tidak langsung. Tapi dalam ilmu kedokteran, kalau informasi yang penulis sampaikan salah, bisa berakibat fatal, menyangkut nyawa pasien. Saya ikut nulis 2 buku, terbit tahun 2017 & 2018. Terbit aja ber ISBN, nggak ada proses review. Padahal kadang dalam menulis saya nggak yakin apa yang saya tulis benar. Tentu kalau bukunya terbit di Routledge atau Springer, ada proses peer-review-nya.

Ketiga, saya mengamati, menelaah, buku-buku yang terbit di Routledge atau Springer itu biasanya ditulisan oleh banyak orang, mereka hanya menulis 1 atau 2 chapter saja, sendiri atau bareng-bareng. Mirip seperti di Jurnal dalam Special Issue. Adapun ilmuan-ilmuan besar, hari ini (beda dengan filsup masa lalu ya), yang menulis buku, itu rata-rata dilakukan setelah mereka berkali-kali atau berpuluh kali menulis di Jurnal berdasarkan research-research empiris mereka di belahan bumi. Barulah setelah merasa kuat basis empirisnya, mereka menulis buku, sebagai model atau teori umum yang mereja bangun. Dalam bidang saya misalkan, ada Emerson yang nulis buku "Collaborative Governance", coba check berapa puluh article yang dia tulis, baru dia nulis buku. Ostrom nulis "Governing the Commons", saya kumpulkan artikelnya di Journal hampir seratus. Jesse Ribot nulis buku "Responsive Natural Resource Initiative", saya koleksi hampir 60 an artikel yang dia tulis, baru nulis buku.

Keempat, nulis artikel di jurnal dianggap exclusive tidak bermanfaat langsung terhadap masyarakat. Apakah betul? Kita lihat dalam Ilmu Kedokteran, seperti kanker, dll. Dokter-dokter spesialis melakukan treatment, tindakan medis terhadap pasien mengacu pada temuan-temuan terbaru di jurnal-jurnal bidang kesehatan. Dalam Ilmu Teknologi pangan, pertanian, dll, industri mengacu pada temuan-temuan ilmuan. Saya merasakan saat kuliah di sini, professor saat memberikan penjelasan pasti acuannya artikel di jurnal-jurnal bereputasi, baik tulisan dia atau tulisan orang lain. Bahkan professor bahasa inggris saja, saat menjelaskan hal sepele penggunaan grammar, argumennya berdasarkan hasil riset yang publish. Mungkin di kita di Indonesia, budayanya masih belum terbangun, penjelasan yang disampaikan oleh kita sebagai dosen ke mahasiswa lebih banyak cerita pribadi dibandingkan dengan mengacu ke hasil riset ilmiah. Begitupun kehidupan kita, lebih banyak dipandu informasi hoax di sosial media, dibandingkan hasil kajian ilmiah. Padahal peradabaan yang agung dalam setiap pase sejarah umat manusia itu lahir dan basisnya ilmu pengetahuan.

Terakhir, saat beberapa kali muncul tulisan di media masa nasional yang mengkritik tentang publikasi di jurnal Internasional, professor saya di jurusan, Ahmad Nurmandi, bilang "Coba check, orang yang kritik itu, lihat mereka punya publikasi atau tidak", di group WA dosen se kampus. Awalnya saya merasa, songong banget nih prof Nur, ngece. Saya buktikan, ternyata sang pengkritik di media masa itu benar tidak punya publikasi internasional. Bahkan satu-satunya paper dia dalam bahasa inggris, terbit di conference proceeding, refensinya website, termasuk wikipedia. Saya pensaran, check pengkritik lain, ternyata benar, tidak punya publikasi. Padahal kritik mereka diamini dan dielu-elukan oleh kita yang belum mau mencoba keluar dari zona nyaman. Apa salahnya mencoba dan belajar? Mohon arif untuk tidak mematahkan semangat kaum muda Indonesia yang ingin belajar publish. Mohon didoakan jangan dipatahkan semangatnya. Wallahu a'lam.

Finland, Midd-Summer 22 Juni 2019

Repost dari akun Rijak Ramdani (klik)




Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Islam, Sains dan Masyarakat *



Apri Tri Nugroho
Pegiat MIM Indigenous School; 
Founder LIBAS (Profil)


Sains dan Perkembangannya
Penguasaan atas pengetahuan akan teknologi akan menjadi indikator bagi suatu bangsa untuk dikatakan maju atau tidak. Jikapun pernyataan tersebut ditolak, maka kita dapat berkaca pada negara-negara pemain globalisasi di kawasan Asia. Negara-negara yang dimaksud adalah India, Cina, Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia.[1] Masing-masing negara tersebut begitu memperhatikan sains dan pengembangan teknologi. Maka tak perlu terkejut apabila dalam produk-produk elektronik yang digunakan dalam keseharian terdapat nama-nama negara tersebut dalam kemasannya.
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 1 komentar

Rasionalitas Al-Qur’an (Bagian-2)





Ari Susanto
Pegiat MIM Indigenous School; 

Mahasiswa pasca-sarjana UII konsentrasi Ekonomi Islam

 


2)     Corak Pemikiran Sayyid Muhammad Rasyid Ridha[1]
Metode dan corak penafsiran Sayyid Muhammad Rasyid Ridha pada dasarnya secara garis besar mengikuti ‘metode dan ciri-ciri pokok’ Syeikh Muhammad ‘Abduh.Adapun peran akal yang digunakan dalam penafsiran Rasyid Ridha dapat kita lihat dari beberapa keterangan dibawah ini:


a)      Penggunaan akal secara luas dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an.

Ridha menolak Pandangan ulama-ulama yang menyatakan firman Allah tentang jin adalah surah al-A’raf : 27
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Akbar Nahkodai PC IMM A.R Fakhruddin Kota Yogyakarta


Yogyakarta – Senin (12/10/2015) Musyawarah Cabang (Musycab) XII Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Abdul Razaq Fakhruddin Kota Yogyakarta yang lebih akrab disapa PC IMM A.R Fakhruddin yang telah berlangsung sejak hari Jum’at (9/10/2015) lalu, memilih Ahmad Akbar Fitriansyah sebagai Ketua Umum periode 2015-2016.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun”, ungkapan yang pertama diucapkan oleh ketua terpilih. Harapannya, ketua terpilih dapat membawa PC IMM AR Fakhruddin yang lebi baik, sesuai dengan gagasan-gagasan yang telah dirundingkan. Selanjutnya, tim formatur akan menyusun komposisi struktur pimpinan cabang IMM AR Fakhruddin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.  
Berdasarkan perhitungan suara yang berlangsung sampai pukul 03.00 dini hari (12/10), panitia pemilihan menetapkan 13 orang nama-nama daftar formatur terpilih. Berikut nama-nama formatur terpilih.
1
Ade Juniara
47
2
Wahidun Arif Rijali
46
3
Adib Wirawan
41
4
Ahmad Akbar Fitriansyah
41
5
Dewi Setiyaningsih
40
6
Amallia Wiji Winarsih
37
7
Body Muthoharoh
36
8
Vidya Markhatus S
35
9
Bagus Arrasyid
31
10
Kasyfi Idraky
31
11
Immawan Wahyudi A.
30
12
Dini Fitrah Eristanti
28
13
Chairul Mukmin
27

Daftar 13 Formatur terpilih. Jumlah pemilih terdapat 54 suara, suara sah 52 suara, dan suara tidak sah 2 suara. 

Sumber : PC IMM. AR. Fakhruddin 




Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Alumni PC IMM AR. Fakhruddin Bentuk IMMAR Foundation



Yogyakarta—bertempat di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada tanggal 14 Maret 2015 yang lalu diadakan reuni kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Dalam pertemuan yang dihadari oleh kader lintas generasi dan dibuka oleh Wakil Rektor I UMY Dr. Gunawan Budiarto, MP. Ini berjalan secara dinamis.

Dalam sambutannya Dr. Gunawan Budiarto, MP. berharap terhadap kader IMM agar mampu berperan aktif dalam persoalan kemanusiaan yang saat ini kian memprihatinkan. Ia pun menggambarkan apa yang terjadi di Timur Tengah, yang kini tengah berada dalam bara konflik dan beberapa konflik horisontal di negeri ini memerlukan perhatian dan peran yang serius. Apalagi, IMM sebagai bagian dari angkatan muda Muhammadiyah dapat memberikan pemikiran dan gerakan secara kreatif, sehingga gerakan Muhammadiyah kedepan semakin menunjukkan peran-peran solutif terhadap persoalan bangsa dan agama.

Pertemuan ini juga diisi sharing mengenai sejarah dan perkembangan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta dengan mengadirkan Irvan Mawardi, SH. selaku Ketua Umum pertama dan Fauzi Fashri, S.IP., M.Si. selaku ketua generasi ketiga PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Selain itu, juga hadir Gintoro, S.IP dan Drs. Husni Amriyanto, M.Si. yang juga memaparkan tentang dinamika IMM khususnya di UMY. Berdasarkan penjelasan dari keempat pembicara tersebut menunjukkan bahwa sejarah kelahiran PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta merupakan hal yang sudah dipersiapkan secara matang, termasuk penggunaaan nama Pak AR. Fakhruddin sebagai tokoh berpengaruh dan menyejarah dalam kepemimpinan organisasi persyarikatan Muhammadiyah. Kini, dengan semakin banyaknya kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta, yang telah melakukan diaspora keberbagai sektor profesi, harusnya menjadi modal besar untuk semakin menunjukkan peran strategis dan berdampak positif jangka panjang, tidak hanya pada sesama kader, melainkan juga untuk bangsa, umat dan persyarikatan. 

Hasil dari reuni kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta ini pun ditindaklanjuti dengan mendirikan IMMAR Foundation. Spirit lahirnya IMMAR Foundation tersebut dilatarbelakangi keinginan alumni yang telah melakukan diaspora diberbagai sektor profesi untuk bisa tetap berkontribusi terhadap PC IMM AR. Fakhruddin maupun kepada sesama kader yang membutuhkan. Yayasan ini semacam mendorong partipasi kader berfilantropi secara kolektif melalui lembaga, yang pada akhirnya menciptakan kesadaran memilki dan kebanggaan sebagai bagian keluarga besar PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakata. (Cm)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Diskusi Perdana Madrasah Intelektual Muhammadiyah (MIM)

Senin, 26 januari 2015 Jam 09.00-12.00 WIB Di Ruang 07 Gedung D UMY, Pemantik: DR. Muhammad Azhar (Dosen FAI UMY dan aktivis Persyariaktan), Peserta dari komisariat sekitar 25 orang, Tema diskusi: “Paradigma Ilmu Integralistik (hubungan Agama, Natural Sciences dan social sciences)”, Poin2 diskusi: Fenomena dikotomi ilmu serta dampaknya terhadap perkembangan ilmu modern, keterkaitan antara ilmu agama-ilmu alam-ilmu sosial, urgensi integrasi ilmu di era post-modern, pola huungan agama dan ilmu, hubungan dialogis-integratif antar agama dan ilmu.

Lanjutan agenda: Focus Group Discussion (FGD) pada 28 januari 2015

Sumber : Blog PC. IMM AR. Fakhruddin  (Klik)

 
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Pegiat MIM Indigenous School Ke India



DPP IMM - 2014 Nampaknya menjadi tahun-tahun emas kegemilangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Secara besar-besaran DPP IMM mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk menyebar ke berbagai belahan dunia guna menyumbangkan ide dan gagasannya pada forum-forum internasional. 31 Agustus 2014, bertempat di Pusdiklat Aparatur Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Ketua Umum DPP IMM, Immawan Beni Pramula, melepas kepergian salah satu kader terbaiknya, Immawan Rijal Ramdani yang merupakan Ketua Korps Instruktur dan Sekretaris Bidang Kader DPD IMM DIY, untuk pergi ke India mengikuti program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN). Bertemu dengan perwakilan pemuda dari 10 Negara Asean yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI bekerjasama dengan Confederation of Indian Industry (CII).

Immawan Beni Pramula berharap bahwa “Pemuda Indonesia khususnya kader-kader IMM Se-Nusantara tidak boleh solorun berkutat di internal. Kita harus maju, jangan hanya merasa besar didalam. Bagaikan katak dalam tempurung. IMM harus menyebar ke berbagai belahan dunia. Berfikir besar, bermimpi dan bercita-cita besar lalu kembali ke tanah air dengan segudang pengalaman untuk membangun Bangsanya”. Secara pribadi, Immawan Beni pun berpesan kepada Immawan Rijal Ramdani, untuk melakukan koneksi dengan kader Muhammadiyah yang sedang belajar di India sehingga bisa menjadi langkah awal untuk melakukan rintisan pembentukan Pimpinan Cabang Istimewah IMM di India. Selain itu Immawan Beni pun menekankan pentingnya membangun jejaring dengan Pemuda – Pemuda perwakilan dari Negara – Negara di Regional ASEAN lainnya. Semuanya itu perlu untuk dilakukan sebagai bentuk aktvitas progresif yang dilakukan oleh DPP IMM untuk mengembangkan jejaring dan membuka cakrawala pengetahuan sehingga ide, gagasan dan nilai-nilai perjuangan Ikatan bisa mendunia.

Bagi Immawan Rijal Ramdani sendiri, ketertarikannya mengikuti kegiatan ini tidak terlepas dari keberhasilan India di dalam membangun perekonomiannya, sehingga dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 7 – 8 persen banyak ekonom Dunia menyebut India sebagai the Second Giant kekuatan Ekonomi di ASIA setelah Cina. Di sisi lain secara demografis jumlah muslim di India pun merupakan yang terbesar kedua setelah Indonesia (Sebanyak 177 Juta Jiwa), sehingga tidak menutup kemungkinan dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,3 persen per tahun dan sebagai Negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Dunia (1,2 milyar), dalam rentan waktu 10 – 20 tahun India akan menjadi Negara dengan penduduk Muslim terbanyak di Dunia. Selama kurang lebih 11 hari Immawan Rijal Ramdani mengunjungi beberapa Perusahaan dan beberapa Kampus Ternama di India, seperti; Perusahaan Infosys, Bosch, dan TVS di Bangalore Negara Bagian Karnataka; Prasad Group of Companies, Tata Consultancy Sevices, dan Harsha Engginering di Ahmedabad Negara Bagian Gujarat, dan Hero Honda di New Delhi Ibu Kota India. Perusahaan – perusahaan tersebut ada yang bergerak dalam bidang Softwar, Manufactur Onerdil Mobil, Motor, dll. Sementara untuk kampus yang dikunjunginya adalah Indian Institute of Management di Bangalore dan Gujarat; keduanya merupkan kampus yang melahirkan CEO – CEO perusahaan besar di Dunia. Dan sebagai penyempurna Immawan Rijal Ramdani pun diajak berekreasi mengunjungi Icon Negara India, Taj Mahal, yang merupakan salah satu dari Tujuh keajaiban di Dunia peninggalan terbesar kerajaan Mughal Islam.

Dari perjalanannya ke India tersebut Immawan Rijal Ramdani bisa mengambil kesimpulan bahwa India sedang mengalami tahapan menuju tingkat Kedewasaan dalam industrialisasi. Hal itu bisa dilihat dari perusahaan - perusahaan India yang hampir bisa dipastikan semuanya memiliki jaringan global. Keberhasilan Industrialisasi di India tidak terlepas dari kemajuan Teknologi dan Ilmu Pengetahun karena semakin banyaknya putra-putri terbaik India yang mengenyam pendidikan di kampus-kampus ternama Dunia. Hal lainnya yang patut dicontoh dari industrialisasi di India adalah seluruh perusahaan di India berdasarkan peraturan perudangan yang berlaku memiliki kewajiban untuk membayar Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar 6 persen dari total keuntungannya. Bahkan perusahaan Tata Services Consultan (TVS) sebagai perusahaan terbesar di India menghabiskan 25 persen dari keuntungannya untuk CSR. Sehingga dengan CSR yang begitu besar itulah bisa menjadi alat untuk menutup kesenjangan dan membangun jejaring pengaman bagi masyarakat misikin untuk bisa mendapatkan jaminan social. Dengan CSR yang begitu mengsankan itulah Peter Casey (2008) mengatakan bahwa TSV merupakan contoh terbaik dalam pendekatan kaptalisme baru yang ramah terhadap masyarakat miskin. Namun bagi Negara Indonesia patut untuk dicurigai bahwa India akan menjadikan Indonesia dan Negara-Negara di regional ASEAN lainnya sebagai pasar dari hasil produksi industrialisasinya. Walaupun di saat yang bersamaan Indonesia memiliki peluang untuk menjadi eksportir terbesar untuk menutupi kebutuhan dasar material dan bahan mentah sebagai penopang proses industrialisasi di India.

Selain Rijal. Dalam rangka merayakan usia Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang ke-50 tahun, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM juga memberangkatkan salah satu kader terbaiknya menuju Seoul Korea dalam acara International Youth Conference, yakni Ajar Pradika A. Tur yang aktif di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Yogyakarta. “Di usia IMM yang telah mencapai 50 tahun, arah gerakan IMM harus mulai atau bahkan sudah mendunia. Kita akan kirim kader-kader terbaik kita untuk mengikuti acara-acara internasional”, papar Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP IMM, Ela Nofitasari.

Keikutsertaan IMM dalam konferensi bertajuk “New Understanding of History in East Asia: From History of Conflict to the History of Shared Understanding” merupakan bentuk tanggungjawab dan dukungan IMM sebagai organisasi kepemudaan untuk ikut serta merancang dan menyelenggarakan perdamaian dunia di wilayah Asia Timur. “Sebanyak 53 pemuda yang berasal dari berbagai negara di dunia berkumpul di Seoul sejak 17 Agustus hingga 21 Agustus 2014 untuk membahas dan mendukung niat perdamaian di Asia Timur”, tutur Ajar Pradika. Peserta konferensi ke Demilitarized Zone (DMZ) yang memisahan Korea Utara dan Korea Selatan merupakan bentuk kesungguhan Korean National Commission for UNESCO dalam mengusung rencana rekonsiliasi seajarah ini. “Kami pun diberi kesempatan untuk berkunjung ke DMZ dan menyapa penduduk yang tersebar pada tujuh desa untuk mengetahui secara langsung kondisi konflik di sana. Pengawalan sangat ketat dan tidak diizinkan adanya kamera”, tambahnya. Pada acara tersebut, Prof. Filomeno V. Aguilar dari Filipina pun menyatakan bahwa acara ini diharapkan menunjang keberhasilan ASEAN Community yang telah kami rancang. Semata-mata untuk kejayaan Asia. Selain untuk menunjang rekonsiliasi sejarah, output forum ini adalah mengajak pemuda di seluruh dunia untuk peduli terhadap perdamaian dunia danmenginisiasi aksi-aksi nyata kepemudaan di kawasan Asia.

Tidak hanya India dan Korea. Pada tanggal 13 Agustus 2014 mendatang 6 diantara kader terbaik IMM juga diberangkatkan ke Penang Malasya untuk mengikuti kegiatan  Final Youth Jam Mereka adalah : Qahfi Romula Siregar (Ketum DPD IMM Sumut), Immawan Muhammad Amiri (Kader IMM DKI), Agus Salim Lamusu (Kader IMM Gorontalo), Nofri Julimet ( Kader iMM Sumbar ), Shiva Nur Azizah ( Kader IMM Banten ), Rifka Nurullita ( Kader IMM DKI ). Selain program-program internasional diatas IMM juga pernah terlibat pada pada kegiatan-kegiatan bergengsi lainnya seperti; Internasional Youth Conference 2013 Di Bahrain Semenanjung Arab, Asean – China Youth Campe 2013, Model United Nations 2014 di Den-haq Belanda, paris dan jerman).


Sumber : Web DPP IMM (Klik)
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Musycab IMM AR. Fakhruddin


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Intervensi Kemanusiaan untuk Palestina


Untuk kesekian kalinya pasukan militer Israel melancarkan serangan intensif dan terorganisasi ke wilayah Jalur Gaza. Seperti sejumlah invasi sebelumnya, aksi militer pasukan Israel dianggap sebagai bentuk respons dan aksi balasan atas tembakan roket pejuang Hamas yang mengarah ke wilayah Israel. Namun, jika melihat aksi militer yang memiliki intensitas tinggi dan daya hancur yang sangat besar maka alasan maupun klaim sepihak pemerintah Israel atas agresi militernya secara faktual terbantahkan. Lebih dari itu, agresi militer Israel ke wilayah Palestina tidak dapat dibenarkan, baik berdasarkan nilai kemanusiaan maupun hukum dan norma internasional.


Menolak invasi di Jalur Gaza


Setidaknya ada dua alasan utama mengapa invasi militer Israel tidak dapat dibenarkan dan harus dihentikan. Pertama, invasi Israel ke Jalur Gaza telah me langgar batas-batas kedaulatan wilayah Palestina. Berdasarkan perjanjian Oslo, wilayah Palestina meliputi Jalur Gaza dan Tepi Barat di bawah administrasi otoritas Palestina meskipun perjanjian ini ditentang oleh kelompok Hamas yang menguasai Jalur Gaza. Oleh karena itu, terlepas dari dinamika politik internal Palestina, Jalur Gaza merupakan bagian dari wilayah kedaulatan Palestina yang harus dihormati oleh semua pihak sesuai dengan piagam PBB.

Kedua, tentu saja semua negara meng inginkan perdamaian dan keteraturan dalam politik internasional, akan tetapi perang dan konflik dalam hubungan internasional bisa kapan saja terjadi dan dapat dipicu oleh beragam sebab dan kepentingan. Namun demikian, ada sejumlah prasyarat yang tercantum di dalam Konvensi Jenewa yang harus dipatuhi oleh dua negara atau aliansi negara yang saling berperang seperti larangan untuk menyerang gedung atau permukiman padat penduduk sipil meskipun wilayah tersebut dianggap sebagai tempat persembunyian pasukan lawan.

Selain itu, tidak dibenarkan me nyerang fasilitas umum, seperti rumah sakit, lembaga pendidikan, dan tempat ibadah dalam setiap peperangan. Ber dasarkan dua alasan tersebut, invasi Israel ke Jalur Gaza harus ditolak dan dihentikan.


Seruan untuk intervensi kemanusiaan


Dalam menyikapi berbagai konflik maupun perang yang terjadi di banyak negara dan kawasan, komunitas internasional memiliki mekanisme dalam melakukan respons atas konflik tersebut atas nama perlindungan dan penyelamatan kemanusiaan atau yang biasa disebut dengan humanitarian intervention di bawah norma internasional Respon sibility to Protect. Berdasarkan norma tersebut, komunitas internasional berdasarkan persetujuan dewan keamanan PBB dimungkinkan untuk melakukan intervensi bahkan dengan pengerahan kekuatan militer (sebagai upaya terakhir) ke sebuah negara untuk menye lamatkan masyarakat sipil dari dampak konflik atau perang yang lebih besar.

Jika mengacu pada empat kondisi yang menjadi prasyarat diperbolehkannya intervensi oleh komunitas internasio nal: genosida atau pembunuhan massal, kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, dan upaya penghapusan etnis tertentu maka dunia internasional harus dengan segera melakukan intervensi kemanusiaan ke wilayah Palestina khususnya Jalur Gaza. Invasi Israel ke Jalur Gaza setidaknya memenuhi dua dari empat prasyarat tersebut, yaitu terjadinya kejahatan kemanusiaan oleh pasukan militer Israel yang menyerang masyarakat sipil yang tidak bersenjata di wilayah pemukiman padat.Selain itu, invasi tersebut memiliki indikasi adanya upaya untuk melakukan pembersihan etnis 

Palestina dengan banyaknya perempuan dan anak-anak yang menjadi korban dari serang militer tersebut. Lebih dari itu, krisis di Palestina tidak lagi sebatas perang antara Hamas dan militer Israel, melainkan bentuk kejahatan massal oleh pasukan Israel. Selain invasi militer, Pemerintah Israel telah melakukan politik isolasi terhadap masyarakat di Jalur Gaza dengan membangun tembok-tembok pembatas dan aksi blokade terhadap bantuan inter nasional yang akan masuk ke wilayah tersebut. Oleh karena itulah, intervensi kemanusiaan ke Jalur Gaza oleh dunia internasional menjadi agenda yang sangat mendesak.

Dengan demikian, meskipun kemung kinan dilakukannya intervensi kema nu sia an ke Jalur Gaza sangat kecil ka rena Israel mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat sebagai salah satu negara pemegang hak veto DK PBB dan sejumlah negara Eropa, Pemerintah Indonesia dapat memainkan peran penting dengan tegas menyuara kan kepada dunia internasional bahwa Palestina membutuhkan intervensi kemanusiaan untuk melindungi masyarakat sipil dari agresi Israel yang semakin destruktif, selain mengeluarkan pernyataan kecaman atas aksi militer Israel atau memberikan bantuan ke wilayah tersebut.

*) Tulisan dimuat Republika hari Sabtu, 12 Juni 2014. Zain Maulana Dosen HI UMY dan pegiat senior MIM Indigenous School.


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

IMM Butuh Laboratorium Kader

Yogyakarta—belakangan ini, seiring dengan semakin matangnya usia IMM yang tengah menginjak setengah abad. Semakin membuat kesadaran para kader terus membesar pula, khususnya tentang pentingnya eksistensi dan konsistensi IMM, baik secara pemikiran dan gerakan. Apalagi, arus gerakan mahasiswa yang kini sedang mengalami kejenuhan dengan minimnya menemukan bentuk gerakan baru, kian terjebak dalam agenda formalitas yang mengabaikan nilai-nilai dasar gerakan. Bahkan yang lebih parah timbul kegenitan dengan partai politik, yang pada tahap lebih jauh ruh gerakan mahasiswa mengambil jarak dengan realitas sosial, dikarenakan beragam kepentingan politik yang menyanderanya. Pada titik ini, IMM harus tetap berpegang teguh pada gerakan Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam enam penegasan IMM sebagai identitas mutlak.

Menanggapi kegelisahasan atas fenomina tersebut, Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PK IMM Fisipol UMY) mengadakan diskusi dengan tajuk “Penegasan jati Diri Ikatan: Mengembalikan Identitas Ikatan, Menguatkan Nilai Gerakan, Memahami Arah Gerak Perjuangan” pada hari Minggu 22 Juni 2014 bertempat di Multimedia Komunikasi Lt.1 UMY dengan pembicara Aminuddin Anwar, S.E., M.Sc. (penulis buku Genealogi Kaum Merah) dan Rijal Ramdani, S.IP., MPA. (pegiat MIM Indigenous School). Diskusi ini bersamaan dengan pelantikan pengurus baru PK IMM Fisipol UMY.

“Pemahaman tentang nilai dasar ikatan dalam tubuh IMM menjadi hal yang sangat penting. Hal ini untuk memberikan dorongan sebesar mungkin kepada para kader untuk mengekplorasi diri baik secara individu maupun secara kolektif dalam ruang-ruang perkaderan. Maka, pemahaman para kader terhadap perkaderan ikatan melalui falsafah training perkaderan akan mempermudah intenalisasi nilai dasar ikatan” jelas Aminuddin Anwar. Ia juga menjelaskan bahwa perlunya evaluasi terhadap program kebijakan dan perkaderan menjadi hal yang sangat mendesak dikarenakan budaya gerakan yang semakin kompleks. Bentuk evaluasi ini hanya bisa dilakukan apabila yang mengevaluasi juga memahami, mengerti dan mampu menggerakkan apa yang dievaluasi. Jika tidak, hasilnya dipastikan tidak ada perubahan apapun dan bagaimanapun bentuknya.

“Keberadaan lembaga creative minority atau labolatorium kader bisa menjadi alternatif dalam membentuk kemampuan, loyalitas dan progresifitas kader ikatan, sebagaimana telah dilakukan beberapa level pimpinan ikatan dalam buku Genealogi Kaum Merah yang telah kami terbitkan” pungkas Aminuddin Anwar. Baginya, beberapa lembaha creative minority mampu membangun akselerasi perkaderan secara informal. Ia pun mencontohkan MIM Indigenous School yang sudah berusia satu dekade sebagai lembaga lembaga creative minority PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Buku Genealogi Kaum Merah ditulis Aminuddin Anwar ia tulis dengan Makhrus Ahmadi.

Sedangkan Rijal Ramdani menjelaskan bahwa gerakan IMM, harus mampu menjadi magnet gerakan mahasiswa yang lain dengan ciri gerakannya yang khas. Artinya, mendobrak kebuntuan gerakan menjadi hal yang diperlukan. Terlebih, ditengah situasi jelang Pilres 2014, dimana patronase semakin merata. Baik dari kader ikatan, kader Muhammadiyah ataupun gerakan mahasiswa lainnya.

“Barangkali, gerakan yang berorientasi jangka panjang bisa memberikan solusi agar keberadaan IMM mampu mengambil yang lebih besar” ucap Rijal Ramdani yang juga sebagai senior dari PK IMM Fisipol UMY. (adm)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 2 komentar

Sekolah IMMawati: Wisuda Angkatan Ke-3




Yogyakarta—tanggal 22 Juni 2014 bertempat di Ruang Mini Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah diadakan wisuda Sekolah IMMawati(SEKIMM) PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta angkatan ke-3. 

Hadir dalam acara ini pimpinan Komisariat dibawah naungan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta, serta beberapa alumni SEKIM angkatan sebelumnya. Wisuda kali sengaja mengambil tema “Terbentuknya IMMawati yang Berkemajuan dan Menginspirasi Masyarakat” agar kedepan gerakan IMMawati mampu memberikan peran yang progresif dalam menghadapi segala bentuk tantangan zaman. Serta yang jauh lebih penting adalah bagaimana sekolah berbasis creative minority ini mampu memberikan banyak inspirasi dan gerakan kolektif dalam tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah secara luas dan tertata.

Gagasan terbentuknya SEKIMM pada awalnya, seperti yang dijelaskan dalam dasar pemikiran System Operational Procedure (SOP), SEKIMM berawal dari gagasan Bidang IMMawati dalam jajaran Pimpinan Cabang IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta periode 2011/2012 pada tanggal 11 Oktober 2011 yang saat itu dipunggawai oleh Fifin Permatasari (Kabid) dan Rr. Annisa Ratnaningrum (Sekbid). Hal ini dilakukan sebagai sebuah upaya untuk membina dan memberdayakan kader IMMawati agar mampu bersikap kritis terhadap wacana sosial serta menumbuhkan gender awarness. Disamping itu, kader IMMawati harus lebih progress dan membuktikan bahwa IMMawati mempunyai peran yang sangat penting serta mampu mengaktualisasikan religiusitas, intelektualitas, humanitasnya dalam rangka membangun keseimbangan dan keharmonisan dalam tubuh ikatan.

Berlalunya waktu, dengan adanya SOP SEKIMM yang mampu memberikan format bentuk dan materi kajian yang lebih teratur, terencana dan terjadual. Tak ayal bentuk lembaga creative minority khusus IMMawati dibawah naungan PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta ini mampu menjawab sebagian kegelisahan tentang peran dan kiprah kader IMMawati. Sekalipun, kedepan senantiasa harus tetap dilakukan evaluasi program, pematangan konsep materi, hingga perluasan radius kelasnya. (cm) 

 Wisuda Sekolah IMMawati Angkatan Ke-2

  Wisuda Sekolah IMMawati Angkatan Ke-1

Sumber Foto :  
Read more...