Slide 1 Slide 2 Slide 2 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Surat untuk Romo Franz Magnis Suseno



Romo Magnis yang saya hormati,

Barangkali, seperti dalam bait pertama “Surat Franz Magnis untuk Prabowo” yang beberapa waktu lalu, sudah banyak tersebar diberbagai media. Saya juga memohon maaf atas perbedaan pandangan dan pilihan—yang barangkali tidak sama dengan pilihan Romo Magnis. Romo punya pilihan dan pandangan begitu pulang dengan saya: dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
 “... Kok sekarang Prabowo sepertinya menjadi tumpuan Islam garis keras..”.
Rasanya, saya juga agak tergelitik dengan yang ditulis Romo Magnis dalam surat untuk Probowo tersebut diatas. Sambil menukil maksud ucapan perang Badar Amien Rais—terkait pertarungan Prabowo-Jokowi dalam Pilpres 2014 ini. Menurut saya, nampaknya hal tersebut amatlah berlebihan—karena relasi konteks keduanya berada dalam ruang terpisah. Maksud ucapan Amien Rais terkait hal tersebut, tidak bisa kita mengambilnya secara “sepotong-sepotong”. Sehingga memperunyam keresahan kita sama umat beragama. Saya rasa, Romo cukup bijak dalam konteks apa Amien Rais mengucapkan hal tesebut—apakah dalam bentuk maksud menerangkan sebagai analogi—ataukah arena permulaan perang. Dan terlebih selama ini Amien Rais juga sosok yang dikenal moderat.

Kekerasan atas nama apapun—termasuk atas nama agama jelas tidak bisa dibenarkan. Tak hanya oleh mereka yang beragama Islam, tapi juga pada agama lainnya. Bahkan termasuk atas masa simpatisan pendukung Capres seperti yang terjadi di Yogyakarta beberapa minggu lalu—ataukah bentuk fandalisme terhadap kantor salah satu media nasional di kota yang sama beberapa hari lalu. Kekerasan tetaplah kekerasan: baik itu kekerasan fisik maupun psikis (rasa takut atau teror). Tapi, meletakkan kekerasan kolektif pada satu orang—hal itu, nampaknya begitu berlebihan, Romo. Lebih-lebih pada Prabowo yang dianggap akan menjadi tumpuan Islam garis keras. 

Dalam barisan pendukung Prabowo sebagai Capres 2014. Tidak cukupkah seorang sosok Mahfud MD, Said Aqil Siraj—ataukah Amien Rais itu sendiri sebagai sosok moderat yang mampu: memberikan ruang kesejukan antar—atau intra umat beragama. Sebab, dukungan menjadi seorang penguasa negeri ini, tidaklah cukup hanya dilakukan oleh segelintir orang atau satu golongan saja. Barangkali, itulah pilihan kelompok garis keras menentukan pilihan hak politiknya, tanpa perlu kita larang dan memaksannya. Toh, apa yang dimaksud Romo itu hanya sekadar kekhawatiran yang belum terjadi—dan mudah-mudahan jangan sampai terjadi. Serta seakan memberikan kesan: bahwa Romo memberatkan timbangan proporsional kalau seorang Jokowi—kini, dan seandainya terpilih mampu mengendalikan kelompok garis keras—atau bahkan menihilkan kekerasan itu sendiri. Ah! Masa iya, Romo.
“Mereka melihat Prabowo sebagai panglima dalam perang melawan kafir. Entah Prabowo sendiri menghendakinya atau tidak. Dilaporkan ada masjid-masjid dimana dikhotbahkan bahwa coblos Jokowi adalah haram. Bukan hanya PKS dan PPP yang merangkul Prabowo, FPI saja merangkul... Mengapa? Saya bertanya: kalau Prabowo nanti menjadi presiden karena dukungan pihak-pihak garis keras itu: Bukankah akan tiba pay-back-time, bukan akan tiba saat saatnya dmana ia haris kembali hutan itu? Bukankah rangkulan itu berarti bahwa Prabowo sudah tersandera oleh kelompok-kelompok garis keras itu?”
Romo Magnis yang saya hormati, 

Isu soal agama memang cukup rentan terjadi di negeri—seperti yang selama ini Romo ketahui. Persoalan kecil akan menjadi besar, hanya karena perbedaan pemahaman yang tidak selesai dalam ruang dialog. Sialnya, terkait masalah sensititas agama kini seakan semakin meruncing jelang pemilu, yang bisa jadi disalah artikan. Sekalipun maksud dan tujuannya baik. Ya! Fanatisme pilihan inilah yang menyebabkan kita gampang saling menuduh dan sulit menerima perbedaan. Romo juga harus memberi kepercayaan terhadap umat Islam yang dianggap garis keras oleh Romo. Maka, kalau pun Romo tidak berkenan memberi kepercayaan, cukuplah berikan kepercayaan dan umat Islam yang moderat—yang jauh besar jumlahnya. Kasus saling haram tak hanya dan dikhotbahkan tidak saja melanda Jokowi, Romo. Tapi, juga melanda Prabowo. Ia bahkan dihukumi persoalan HAM yang melekat pada dirinya—jauh melebihi pengadilan yang sesungguhnya—pengadilan sosial. 

Maaf, Romo. Saya benar-benar tidak percaya golongan garis keras yang Romo bilang itu akan terbukti bisa membelenggu Prabowo. Alasannya, karena aliran ini hanya terlalu dibesar-besar saja jumlahnya. Seakan negara ini menjadi negara rimba—yang tak ada perlindungan dan penegak hukum sebagai relasi sebab-akibat. Bahwa jika dengan terpilihnya Prabowo, negeri ini akan menjadi negara rimba—atas kelompok garis keras tersebut. Atau dengan terpilihnya Jokowi bentuk kekerasan akan selesai dengan cara blusukan—yang nyatanya, setiap persoalan tidak bisa diselesaikan dengan cara blusukan: seperti yang pernah dulu Romo kemukakan. Saling sandera kepentingan dalam politik, memang bukan hal lumrah. Lebih-lebih dalam dunia politik yang serba pragmatis. Siapapun yang terpilih nantinya, baik Prabowo ataupun Jokowi juga akan tersandera dengan keputusan politiknya sendiri—kalaupun harus tersandera. Mudah-mudahan tidak ada saling sandera, selain sandera kepentingan rakyat. 

Romo Magnis yang baik, 

Selama ini, saya selalu memandang Romo sebagai orang bijak yang bisa saling memahami dan mengerti soal perbedaan—tak terkecuali, perbedaan pandangan dan pilihan politik. Mari kita hormati siapapun dan golongan dengan pilihannya sendiri. Tanpa kita perlu saling memprovokasi dan memaksa pindah pilihan. Dan mungkin itulah fitrah pesta demokrasi yang telah kita pilih: siap menerima perbedaan...

.. dan Maaf Romo. Nampaknya kegelisahan Romo tersebut, tidak perlu dirisaukan secara berlebihan. 

Selamat memasuki hari tenang, tanpa Kampanye Pilpres 2014


Sumber : Blog penulis 
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Calon Presiden Musuh Islam?



“Cilaka, Kyai! Cilaka!” Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. Kegelisahanku tiba-tiba membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku. 

“Cilaka apanya, Nak?” Tanya Kyai Husain.

“Pilpres!” Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. Aku yakin Kyai Husain akan mengerti. 

Kyai Husain terkekeh. “Ndak usah dipikir!” Katanya, “Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!” Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya. 

“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai. Ini sudah genting! Jika calon yang didukung para pengusaha hitam dan musuh-musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam di negeri ini. Negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”

Kyai Husain mengangguk-angguk. Wajahnya tampak prihatin.“Kamu sudah shalat?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepala. 

“Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.” Kata Kyai Husain.
Pelan-pelan keresahanku ciut. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa bebalnya imanku, aku berteriak-teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan kewajibanku.
Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. Kyai Husain mengangguk perlahan. Beliau sedang asyik dengan tembakaunya. 

Selang delapan atau sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain. 
“Bagaimana shalatmu?” Tanya Kyai Husain tiba-tiba. 

Aku terkejut ditanya demikian. Bagaimana shalatku?

“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.” Aku menjawab pertanyaan itu dengan terbata-bata.

“Apa yang kau pikirkan dalam shalatmu?” Kyai Husain bertanya lagi. 

Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya-tanya begini. Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku? Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? Untuk apa Kyai Husain tanya-tanya segala? Tapi, karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengakatan kepadanya bahwa aku tersinggung. Aku juga tak mungkin menjawab, Bukan urusan Anda, Kyai!  Bisa-bisa nanti beliau yang tersinggung. Jika begitu, celakalah aku. Bisa kualat aku. Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. Dari alif-ba-ta Al-Fatihah sampai rukuk-sujud gerakan shalat dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran. 

“Eh… Anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.” Astagfirullah. Mengapakata-kata itu juga yang keluar dari mulutku?

Kyai Husain terkekeh. Kemudian agak terbatuk. “Ya sudah…Soal agama, biarlah itu juga jadi urusan pribadi-pribadi dengan Tuhannya,” katanya, lalu beliau menghisap tembakaunya. “Tapi, dalam shalatmu, kamu mikirin copras-capres atau tidak?” Sambung Kyai Husain, kemudian tertawa lebar.
Aku jadi kikuk. Aku tersenyum-senyum malu. 

“Iya, Kyai.” Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi. Kepalaku dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran dan semacam kebencian. Khawatir karena elektabilitas capres yang kubenci, yang begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. Maunya apa sih ummat Islam Indonesia ini? Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.  

“Coba kamu ingat-ingat lagi,” kata Kyai Husain, “Capres mana yang paling membuatmu gelisah dalam shalat?”

“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai! Jelas dia yang dikendalikan cukong-cukong asing! Jelas dia yang tidak pro kebijakan syariah! Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!” Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi-api. 

Kyai Husain terkekeh. “Shalatmu begitu berat,” katanya. 

Aku kebingungan.

“Shalatmu penuh beban,” lanjut Kyai Husain. “Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban.”

“Tapi, Kyai…” Aku berusaha memotong Kyai Husan, “Mohon maaf. Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa. Pemilihan presiden tinggal 20 hari lagi, musuh-musuh Islam hampir saja menang!”

“Siapa yang kau sebut musuh-musuh Islam?” 

“Capres boneka! Juga orang fasik di belakangnya!” Jawabku dengan penuh semangat.
“Bukankah dia juga seorang Muslim?” Tanya Kyai Husain.

“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan! Keislaman palsu!”

“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?” Dengan tenang Kyai Husain mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. Beliau masih menghisap tembakaunya.

“Eh, Kyai. Mohon maaf, Kyai. Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.” Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. Apa hakku memberi batas dan ukuran-ukuran bagi keislaman seseorang? Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu, pencitraan dan harus diragukan?

“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?” Tanya Kyai Husain. 

Aku makin gelagapan. Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. Hingga hampir kehabisan waktu. Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal-ihwal ini-itu. Apa hakku mengatur-atur keisalaman orang lain? Bagaimana dengan keislamanku sendiri?

Aku tertunduk lesu. Tak bisa menjawab apa-apa dan tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menggelengkan kepala. 

Kyai Husain terkekeh. 

“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pemilu-pemiluan,” jawab Kyai Husain, “Agama ini lebih besar dari sekadar capres-capresan!” Beliau tampak lebih serius.

Aku mulai memerhatikan perkataan Kyai Husain. 

“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini. Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk dibanding-bandingkan. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah final. Kamu mau bawa-bawa Islam untuk urusan politik? Kamu tak lebih dari mereka yang memperjualbelikan agama untuk urusan dunia. Kamu mau membela ummat Islam? Tanyakan itu sekalilagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi pemilih? Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana capres Islam dan bukan Islam agar mereka bisa dikategori-kategorikan, dikelompok-kelompokkan, agar syahwat kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai? Kamu ini sedang membela Islam, atau siapa? Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya mengaku-ngaku dekat dengan Gusti Allah?”

“Lalu soal mengharam-haramkan. Soal bahwa memilih capres tertentu diancam berdosa dan bahkan masuk neraka. Apa hakmu untuk mengatur-atur urusan yang bahkan Rasulullah Muhammad pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu? Apakah kamu sudah merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah? Kamu boleh senang atau tidak senang dengan capres terntentu atau siapapun saja, tetapi kamu tidak boleh senang melihat ummat Islam terpecah belah, dipecah-belah. Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang suara—kamu tidak boleh mengharam-haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu sedang berusaha menghalal-halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”

Aku hanya bisa menunduk. Kata-kata Kyai Husain benar-benar menampar hatiku.

“Tapi Kyai…” Aku berusaha memberi pembelaan, “Situasinya sekarang sudah hitam-putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”

Kali ini Kyai Husain tampak marah. “Dengarkan aku!” Katanya,“Musuh Islam sejati adalah orang-orang munafik! Mereka yang dalam luka baru mengaku saudara! Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja baru mengaku-aku dekat dengan agama ini. Mereka yang menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan merasa bahwa dirinya paling beriman.”

“Tapi… tapi…” Aku berusaha memotong Kyai Husain. Tapi beliau tampak benar-benar geram dengan situasi ini.

“Islam tak membutuhkan orang-orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya. Gusti Allah tak perlu dibela. Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon presiden yang kaubenci itu menang, kamu sudah benar-benar mengerdilkan dan meremehkan agama ini. Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama? Kecuali kualitas imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya. Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”

Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda denganku. Jangan-jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon presiden boneka. Jangan-jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. Aku tak boleh menemuinya lagi. Ya, aku tak boleh menemuinya lagi. Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi. 

“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir!” Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca pikiranku. Lalu tertawa. “Tidak apa-apa jika kau berpikir begitu. Kelak di surgamu yang kamu bayang-bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang-orang sepertiku. Surgamu mungkin akan dipenuhi oleh orang-orang yang suka menunjuk-nunjuk hidung orang lain sebagai sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar. Mungkin perlu juga kamu pikirkan apakah di antara orang-orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan juga? Sebab kebenaran hanya benar menurut dirimu sendiri, bukan? Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”

Kyai Husain terkekeh. 

Aku berada pada situasi yang benar-benar membingungkan. Aku mulai ragu pada diriku sendiri. Apa yang dikatakan Kyai Husain benar-benar menampar hati dan kesadaranku. 

“Maafkan saya, Kyai.” Tiba-tiba aku memohon maaf padanya. Akal sehat dan nuraniku memerintahkannya.

Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir habis.

“Kau tak perlu meminta maaf padaku,” katanya, “Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci tak akan menentukan apa-apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri dengan Gusti Allah.”

Aku mengangguk-angguk setuju. 

“Perbaiki shalatmu,” kata Kyai Husain, “Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti pesta demokrasi lima tahunan ini.”

“Tapi kita harus memilih, Kyai.” 

Kyai Husain mengangguk. “Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal dan hati nuranimu.”

Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih, Kyai.”

Magrib hampir tiba. Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah. Aku menyetujui ajakannya. “Selesai shalat, orang-orang akan membicarakan hal yang sama,” kata Kyai Husain sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak apa-apa,” katanya, “Ini sedang masanya. Kelak kita akan kembali pada urusan masing-masing, pada problem hidup masing-masing, pada takdir dan nasib kita masing-masing, dan kita harus berjuang untuk menyelesaikannya sendiri-sendiri.”

Aku mengangguk. “Saya akan memilih calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu rakyat untuk menyelesaikan problem-problem keseharian mereka, Kyai.”

“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.” Kata Kyai Husain. “Alasan itu saja yang kau jadikan pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot-repot bawa agama.”

Aku tersenyum. Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain tentang pendapatku. Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari belakang. Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban yang tak lepas dari kepalanya. 

“Kyai…” Tiba-tiba aku ingin memanggilnya. 

Kyai Husain menoleh. 

“Siapa yang Kyai pilih?”

“Tak ada yang sempurna,” Jawabnya. “Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. Bahkan Muhammad tak memiliki suara merdu seperti Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti yang dimiliki Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Ibrahim atau setangguh Musa. Aku akan memilih calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”

Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.

“Siapa orangnya, Kyai?”

Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau. 

Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. Sepanjang shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam. Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.
Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku. Tetapi dalam shalat berjamaah, semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. Aku mulai sadar, kebaikan yang paripurna tak bisa dicapai sendirian. 

Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. Kepalanya mengangguk-angguk ritmis. Aku belum tahu jawaban Kyai Husain tentang calon presiden pilihannya... Tapi aku mulai ragu pada pilihanku sendiri.

Melbourne, 21 Juni 2014


*Fahd Pahdepie atau dikenal juga dengan nama pena Fahd Djibran adalah mahasiswa Postgraduate di School of Politics and International Relations, Monash University, Australia. Saat ini tinggal di Melbourne.

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Larantuka

Oleh : Bara Pattyradja

"dan lautan cinta boleh berombak boleh beriak. 
tapi ia tak boleh menenggelamkan kita. 
didasarnya kita jadi ikan-ikan yang berenang dengan tenang. 
di permukaannya kita jadi kapal-kapal 
yang menyeberang dengan lengang. 
sandarkan derita pada dada langit yang lapang.
merindulah terus pada kesejatian--
serupa kerlip bintang malam"


LARANTUKA

kutitipkan padamu
patah kata sajak
dari puncak ile mandiri
kapal-kapal murung
seribu tiang
bergetar di hatiku

rasanya aku lelah
arungi laut yang tak lagi biru
hujan pun sesekali turun

ah, kucandu matamu
juga bibir pelarianmu
di bawah pohon sirih, 
di pondok pondok dungu
kata kata hidup
dalam tubuh yang tidur

2012

*) Tulisan ini diambil dari status Facebook penulis. Bara Pattyradja pegiat MIM Indigenous School generasi awal


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Pasar Gelar


Oleh : Muji Suseno


Di kampus yang telah berparas pasar
Tikar-tikar digelar-gelar menjual sejumlah gelar-gelar
Lapak-lapak menjual loak-loak ilmu dan pengetahuan

Kiranya jual-beli,
sesungguhnya jelas terlihat disini
Teriakan obral penjual semakin nyaring berbunyi,
tak bersembunyi dari telinga pembeli

Si Kumal Tukang Maki tak terlihat lagi
Padahal aku rindu bernyanyi sunyi,
di pinggir lobi,
di tepian mimpi,
bermain teka-teki

Angin sore segar yang dulu kami nikmati,
telah berganti,
dengan parfum-parfum wangi,
masa depan penuh janji
dari bibir-bibir tak suci

Uang-uang dari sudut-sudut negeri menghambur-hambur,
bertebaran di kampus bak daun-daun karet dan jati yang gugur
Demi imbalan bagi dosen-dosen supaya makmur
Agar dosen-dosen terus memasak di dapur untuk perut-perutnya yang semakin subur

Cekakak-cekikik tawa mahasiswa,
kala mengobral cerita tentang mobil papa
Cekakak-cekikik tawa mahasiswi,
kala mengobral cerita traktiran pacar di restoran siap saji

Usahlah dicari,
kuragu ada yang mau obrol-obrol diskusi,
tentang advokasi,
tentang diskriminasi,
tentang liberalisasi,
tentang marginalisasi,
dan, apalagi tentang demonstrasi!

Usahlah dicari,
kuragu ada yang menjadi aktivis
yang biasa obrolkan sosialisme
yang biasa obrolkan komunisme
yang biasa obrolkan nasionalisme
yang biasa obrolkan modernisme
yang biasa obrolkan humanisme
yang biasa obrolkan liberalisme
yang biasa obrolkan kapitalisme
dan, apalagi yang biasa mencaci hedonisme!

Si Kumal Tukang Maki tak ada lagi,
padahal aku rindu sekali,
bermain benci-benci,
membaca sekaligus mengkaji
ilmu hidup sekaligus ilmu mati

Ah...
Siapa peduli!?
Jika air lebih banyak dibanding api
Terhanyut sanubari, tenggelam hati

September 2013
M.S.


*) Tulisan ini diambil dari status Facebook penulis. Muji Suseno Pegiat MIM Indigenous School



Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Seruling

Oleh Muji Suseno


Adalah alunan seruling tua
yang berbunyi merdu
di dekat perdu-perdu itu.

Adalah ingatan masa lalu
yang tak lagi disentuh zaman
yang diingatkan lewat alunan.

Gendang telinga pun tersentuh
getar irama kenangan merayu
sendu, namun tak pilu.

Terpejam mata menginsyafi janji
terkenang,
pada tanah jatuh keringat Ibu.

Ingatlah kalbu kepada:
Lambaian kembang-kembang incaran lebah madu.
Semarak kecipak-kecipuk tepar tangan pada jernih air.

Masih terpejam mata,
masih.
Alunan semakin menjadi irama
mengaduk-aduk hasrat
mencengkram jiwa,
erat.

Masih mengalun mengiangkan
saripati dari muara kehidupan,
yang ditelikung zaman.

Kala air tak bertugas menjadi pengairan,
udara berubah rupa menjadi kotoran metropolitan,
api berganti membenci-benci,
tanah menjelma gelombang-gelombang erosi.

Seruling tua mengalun lesu,
menutup alunan dengan pilu.

Terlepas dari tangan Ibu.

September, 2013
M.S.

*) Tulisan ini diambil dari status Facebook penulis. Muji Suseno Pegiat MIM Indigenous School


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Renta

Oleh : Muji Suseno


Tak perlu menunggu uban!
Lihatlah jatah perut sekarang-sekarang ini!
Dengarlah suara-suara lidah putus!
Maka renta sangat dekat untuk diketahui!

Tak perlu menunggu bungkuk!
Ciumlah air kemihmu sendiri!
Kecaplah tinjamu sendiri!
Maka renta sangat dekat untuk dipahami!

Tak perlu menunggu tua!
Rabalah dua tangan dan dua kakimu sendiri!
Niscaya engkau sendiri tak sanggup memegang keduanya!
Kendali dua tangan dan dua kakimu dipegang bukan lagi olehmu!
Dua tangan dan dua kakimu bukan lagi milikmu!
Bahkan dirimu bukan lagi dirimu!
Dirimu adalah renta!

September, 2013
M.S.

*) Tulisan ini diambil dari status Facebook penulis. Muji Suseno Pegiat MIM Indigenous School



Read more...