Slide 1 Slide 2 Slide 2 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Syafii Maarif. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Islam dalam Krisis III

Ahmad Syafii Ma'arif


Puncak kemegahan rezim Turki Usmani terjadi pada abad ke-16, terutama di bawah Sultan Sulaiman Yang Agung (1520-1566). Kemegahan ini terjadi juga dengan melibas suku-suku kecil Turki yang semula bersifat otonom dalam bentuk keamiran, sehingga protes mereka berbunyi: “Mengapa sultan menghabisi kami sesama Muslim, bukan yang non-Muslim.” Sesungguhnya yang dihabisi itu bukan hanya suku-suku kecil Turki itu, rezim Safawi yang syi’ah juga diperangi, di samping  memerangi daerah Balkan, Hungaria, bangsa-bangsa Arab di Asia Barat dan Afrika Utara. Lagi-lagi, sebuah imperium memang dibangun di atas tengkorak manusia, Muslim atau non-Muslim. Umat Islam pada umumnya larut dalam kemegahan kekuasaan rajanya, tetapi sedikit sekali yang mau merenung dan mengoreksi proses kemegahan itu diraih. Sikap moral kebanyakan kita lemah sekali.

Tidak berapa lama setelah puncak kemegahan Turki Usmani di bawah Sulaiman, menjelang akhir abad ke-16, pihak Barat yang Kristen mulai memasang tali lasso untuk mencekik leher umat Islam di berbagai bagian wilayah dunia. Inilah kesaksian Toynbee tentang masalah ini: “Sungguh, menjelang akhir abad ke-16, pihak Barat, berkat penaklukkannya atas Lautan, telah berhasil melemparkan tali lasso ke sekitar leher Islam; tetapi barulah di abad ke-19 pihak Barat berani menarik tali itu dengan kuat.” (Lih. A.J.Toynbee, Civilization on Trial and The World and the West (Cleveland and New York: The World Publishing Company, 1963, hlm. 248). Artinya, di abad itu, hampir seluruh  bangsa Muslim tersungkur menjadi manusia terjajah. Turki yang pernah perkasa itu menjelang akhir abad ke-18 sudah diberi gelar sebagai “Orang sakit Eropa.”

Krisis panjang yang hina ini sangat melelahkan umat Islam sejagat, tetapi untuk menjadi siuman betul, alangkah sulitnya. Penguasa Muslim yang menyukai rakyatnya sebagai penurut paling bertanggung jawab atas segala malapetaka ini. Pukulan sejarah bertubi-tubi rupanya belum cukup untuk membangunkan dan menyadarkan umat akan tugas besar sejarah yang dipikulkan Alquran ke atas pundaknya. Jangankan sadar, sebagian mereka malah menikmati hidup di bawah sistem penjajahan itu sebagai manusia budak yang penurut dan peniru. Iqbal menulis: “Kredo si budak adalah tiruan. Dan kerjanya adalah membuat citra palsu. Dalam beragama, pembaruan baginya adalah sebuah dosa….Matanya terpaku pada masa silam, tetapi buta tentang masa depan.” (Lih. Iqbal, Gulshan-I-Râz-I-Jadîd dan Bandagî Nâmah, terjemahan M Hadi Hussain. Kashmiri Bazar-Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1977, hlm. 59).

Lagi Iqbal dengan lebih tajam tentang mental budak ini: “Si budak secara murahan terbelah dua antara agama dan kearifan: dia mengusir jiwanya untuk mengamankan badannya dan, sekalipun nama Tuhan bertengger di bibirnya, sasaran sesembahannya adalah keperkasaan penguasa.” (Hlm. 60). Penguasa busuk semacam inilah yang menghancurkan Islam dari dalam sepanjang sejarah, sekalipun bangsa-bangsa Muslim telah merdeka dari sistem penjajahan asing. Pergolakan dunia Arab sejak 2010 yang lalu adalah perlawanan keras terhadap rezim-rezim  Muslim yang busuk dan rakus ini.

Tetapi krisis belum usai. Sejak beberapa waktu yang lalu muncul pula kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) dengan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin puncaknya yang mengaku sebagai khalifah dunia Islam. Faksi Kawarij baru ini akan membunuh siapa saja yang tidak sefaham dengannya, Muslim dan non-Muslim. Kekacauan politik yang dahsyat di dunia Arab adalah pemicu utama bagi munculnya gerakan semisal ISIS ini. Barat, khususnya Amerika Serikat, turut bertanggung jawab bagi lahirnya kelompok teror-radikal di dunia Islam yang rapuh. Dengan berantakannya Afghanistan, Iraq, Lybia, Suria, dan lain-lain, penguasa formal dunia Arab yang busuk telah kehilangan wibawa.

Kekosongan ini segera diisi oleh tipe manusia garang dan ganas, seperti al-Baghdadi sebagai penerus Usamah bin Ladin. Di Afrika selatan sahara juga ada kelompok Boko Haram, gerakan teror yang bersembunyi di balik jubah agama. Dunia Islam kalang kabut dibuatnya. Indonesia yang relatif aman, mengikuti semua drama ini dengan sikap awas dan penuh keprihatinan, tetapi tidak dapat berbuat banyak. Agen-agen teror juga berkeliaran di negeri ini.

Pertanyaannya, untuk berapa lama lagi krisis ini melanda Islam dan dunia Islam? Tak seorang pun di antara kita yang bisa menjawabnya, apalagi saya. Tetapi suasana iman pasang-surut yang sederhana mengingatkan saya akan ayat 110 surat Yûsuf (12) yang artinya: “Sampai ketika para rasul sudah dalam keadaan putusasa dan mengira mereka sungguh telah dibohongi [oleh kaumnya], datanglah pertolongan Kami kepada mereka. Kami selamatkan orang yang Kami kehendaki, dan hukuman Kami tidak dapat terhindar dari kaum pendosa.” Oleh sebab itu, jalan masih terbuka lebar untuk mengundang pertolongan Allah agar keluar dari krisis, dengan syarat adanya kesediaan kita yang tulus untuk menjadi Muslim yang benar, lurus, dan merdeka. Mental budak harus diusir sejauh-jauhnya, sehingga kepala kita tegak berhadapan dengan siapa pun di muka bumi ini. Kemerdekaan umat yang hilang menjadi peluang emas bagi penguasa Muslim yang jahat dan bejat.

Tulisan : direpost dari Resonansi Republika (Klik Sini)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Islam dalam Krisis II

Ahmad Syafii Ma'arif

Dinasti Umayyah yang sepenuhnya bercorak Arab dibangun Mu’awiyah di atas kafan ‘Ali bin Abi Thalib dengan ibu kota Damaskus. Rezim ini bisa bertahan sekitar 90 tahun (661-750) untuk kemudian diluluhlantakkan oleh rezim baru, campuran Arab dan Persi, dinasti ‘Abbasiyah (750-1258), dengan ibu kota Baghdad. Muslim keturunan Persi merasa dianaktirikan oleh rezim Umayyah sebagai warga mawâlî (kelas dua) cepat bergabung dengan rezim ‘Abbasiyah yang semula berpusat di Khurasan (Persi). 

Peradaban memang berkembang hingga mencapai puncak-puncaknya yang tertinggi, tetapi semua itu juga dibangun di atas tengkorak umat Islam yang berbeda pandangan politik. Salah seorang dari unsur dinasti Umayyah yang bebas dari pengejaran pasukan ‘Abbasiyah, Abd al-Rahman I (al-Dâkhil) lari ke Spanyol untuk kemudian pada tahun 756 membangun kerajaan di sana yang bisa bertahan berabad-abad sampai 1031 disertai perkembangan peradaban yang tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh dinasti ‘Abbasiyah di belahan Timur. Kita semua pasti bangga dengan capaian-capaian itu, tetapi jangan lupa membaca sisi gelap yang lain: politik kekuasaan telah menghancurkan perumahan persaudaraan umat dengan membuang jauh perintah Alquran tentang persatuan berdasarkan iman ke dalam limbo sejarah. Dalam politik kekuasaan, iman sering benar digantikan oleh semangat suku, ras, atau keturunan.

Rezim ‘Abbasiyah dalam sejarah biasa disebut sebagai abad emas Islam. Nomenklatur ini tentu tidak salah sepanjang menyangkut aspek kemegahan duniawi tanpa menengok keutuhan internal umat yang berantakan. Kehancuran Baghdad oleh serangan pasukan Hulagu (Mongol) pada 1258 tidak serta merta membawa kehancuran rezim-rezim Muslim yang lain. Di Spanyol masih bertahan kerajaan-kerajaan kecil Muslim pasca dinasti Umayyah sampai pada tahun 1492 ketika pasukan Katolik-Salib mengusir umat Islam seluruhnya dari sana dengan diberi pilihan: pindah agama, diusir, atau dibunuh, termasuk umat Yahudi yang juga harus lari dari sana. Dalam hal toleransi lintas agama, filosuf agnostik Bertrand Russell menulis dalam karyanya Why I Am Not a Christian (New York: Simon and Schuster, 1957, hlm. 202): “Imperium para khalifah bersikap lebih ramah kepada orang Yahudi dan Kristen dibandingkan dengan negara-negara Kristen terhadap umat Yahudi dan umat Islam).”

Tetapi harus pula dicatat bahwa imperium khalifah tidak memberi ruang gerak kepada lawan-lawan politiknya sesama umat Islam. Ini yang berlaku sepanjang sepanjang sejarah. Darah lebih banyak tertumpah dalam perang sesama Muslim dibandingkan dengan sengketa dengan pihak lain, kecuali dalam Perang Salib (dalam bahasa Arab: al-ĥurûb al-shalîbiyyah) yang berlangsung lebih sedikit dari dua abad itu (1095-1291). Krisis demi krisis yang dialami Islam hampir selalu berkaitan dengan politik kekuasaan, baik antara sesama Muslim atau antara Muslim berhadapan dengan kekuatan non-Muslim.

Bahwa Islam terus saja berkembang dengan merebut pengikut-pengikut baru dari berbagai bangsa adalah juga kenyataan yang terus saja berlangsung. Jumlah umat Islam sekarang dengan angka moderat sebesar 1,6 miliar tidak akan jauh dari fakta yang sebenarnya. Saban hari di berbagai penjuru bumi Muslim baru terus saja bermunculan. Krisis tidak menghalangi pendatang baru itu. Di Amerika Serikat, justru pasca Tragedi 11 September 2001, jumlah warga Muslim semakin banyak saja di sana. Semakin Islam disudutkan, semakin muncul saja manusia yang mencarinya. Ini memang ajaib.

Sebelum hancur total, Rezim ‘Abbasiyah secara berangsur tetapi pasti telah digantikan oleh pendatang baru yang bukan Arab atau Persi. Mereka berasal dari puak Turki yang nenek moyangnya berasal dari Asia Tengah. Setelah melalui proses panjang dan berliku, puak ini lambat laun menjadi penganut Islam, umumnya bermazhab Hanafi. Bermula dari dinasti Saljuk pada abad ke-11, kemudian di akhir abad ke-13 diambilalih oleh dinasti Usmaniyyah (1299-1924), sebuah imperium besar dan gagah yang menakutkan dan menggoncangkan pihak Eropa yang bertahan sampai sekitar tujuh abad. Pada tahun 1453 di bawah Sultan Muhammad II al-Fâtiĥ (Pembuka/Penakluk), kota megah Konstantinopel ditaklukkan dari pihak Bizantium (Romawi Timur), sebuah peristiwa yang sangat menyakitkan pihak Kristen dan dunia Barat sampai hari ini.

Dari sisi ini saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Ismail R. al-Faruqi yang mengatakan bahwa umat Islam tidak pernah menjadi penakluk, tetapi sebagai pembuka jalan untuk dakwah Islam (al-futuĥât). (Lih. Ismail Ragi al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam (New York: Macmillan Publishing Company, 1986, hlm. 202-229). Dalam kasus Konstantinopel, proses penaklukan itu sangat jelas. Gelar al-Fâtiĥ yang disandang Muhammad II adalah sebagai penakluk. Adapun sifat penaklukan itu dinilai lebih beradab, sebagaimana Russell mengatakan, juga adalah sebuah fakta sejarah.

Tulisan : direpost dari Resonansi Republika (Klik Sini)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Islam dalam Krisis I

Ahmad Syafii Ma'arif

Jika turunnya wahyu pertama pada tahun 610 Masehi sebagai awal kenabian dapat diterima menjadi tonggak karier Islam di muka bumi, maka karier itu sudah berlangsung dalam lipatan abad yang panjang. Islam bukan lagi agama sederhana, ia sudah kompleks sekali. Tafsiran terhadap agama terakhir ini sudah berlapis-lapis, sehingga untuk menentukan mana yang emas dan mana yang loyang menjadi tidak mudah, kecuali di tangan orang yang dikurniai ‘aqlun shaĥîh wa qalbun salîm (minda yang sehat tak terbelah dan hati yang tulus tanpa cacat), sekalipun tidak pernah sempurna. Alquran pasti membuka diri terhadap orang dengan kualitas prima ini. Tetapi manusia tetap manusia dengan segala keterbatasannya, ada saja sisi-sisi yang lemah yang mengganggu.

Dari sudut pandang relativisme manusia inilah kita harus memahami mengapa telah berlaku peperangan antara kelompok ‘Aisyah binti Abû Bakr, janda nabi, yang dipimpin oleh Thalĥâh bin ‘Ubaidillâh dan Zubair bin ‘Awwâm berhadapan dengan pendukung Khalifah ‘Alî bin Abî Thâlib (656-661), sepupu dan menantunya. Menurut hadist, sebagai sahabat nabi, mereka yang terlibat dalam peperangan ini telah dijamin masuk surga. Ini adalah krisis politik pertama yang berdarah dalam sejarah Islam yang dikenal dengan Perang Onta, terjadi tahun 35 H/656 M, segera setelah berlaku pembunuhan keji atas diri Khalifah ‘Ustmân bin ‘Affân (644-656) oleh pemberontak Muslim yang menentang kebijakan khalifah yang dinilai tidak adil.

Krisis kedua yang lebih dahsyat di periode awal itu terjadi dalam perang Shiffîn (657) antara pasukan’Ali dan Mu’awiyyah bin Abû Sufyân, gubernur Suria yang diangkat Khalifah ‘Umar bin Kaththâb (632-644) di masa kekhalifahannya. Dalam perang saudara yang masih dikait-kaitkan dengan Parang Onta ini, ribuan yang mati dari kedua pihak. Ketika pasukan ‘Alî nyaris menang, utusannya Abû Mûsâ al-‘Asy’arî ditipu oleh utusan Mu’âwiyah, ‘Amr bin ‘Ash yang cerdik, agar peperangan dihentikan dan berdamai (taĥkîm) di Daumatul Jandal, sebuah oase di lembah Sirhan yang terletak antara Damaskus dan Madinah.

Peluang ini digunakan dengan licik oleh ‘Amr bin ‘Ash untuk mengganti ‘Alî sebagai khalifah dengan menobatkan Mu’âwiyah, idolanya. Tetapi kekuasaan penuh Mu’awiyah harus menanti dulu kematian ‘Ali karena ditikam oleh mantan pengikutnya di masjid Kufah. Kelompok garis keras ini kemudian dikenal dalam sejarah sebagai golongan khawarij (yang memisahkan diri) dari ‘Ali karena menentang taĥkîm di Daumatul Jandal. Tetapi sebenarnya yang tetap setia kepada ‘Ali sampai detik terakhir adalah kaum Anshar. Adapun orang Iraq dan apa yang dikenal dengan golongan al-Qurra tidak sepenuh hati mendukung ‘Ali. Kelemahan ini dibaca dan dimanfaatkan oleh pihak Mu’awiyah untuk memecah belah kubu ‘Ali dan berhasil.

Saya rekamkan kejadian tragis ini bukan untuk membuka luka yang telah berusia belasan abad, tetapi untuk menyadarkan kita semua bahwa sengketa yang berdarah-darah di atas sepenuhnya adalah gejala Arab, bukan mewakili Alquran yang dengan tegas memerintahkan agar orang beriman itu bersaudara dan berdamai. (Lih. Aquran . Al-Ĥujurât: 10). Ironisnya adalah perpecahan yang bercorak Arab ini kita warisi sampai detik ini. Seakan-akan kelakuan para sahabat yang terlibat dalam sengketa dan peperangan itu menjalankan perintah Alquran, sama sekali tidak. Adapun mereka itu dijamin masuk surga sepenuhnya adalah urusan Allah dengan mereka, kita tidak tahu.

Dari tragedi Shiffîn inilah kemudian berkembang tiga faksi besar umat yang tidak pernah berdamai: sunni, syi’ah, dan khawarij. Sunni yang muncul sebagai golongan mayoritas merasa diri selalu berada di pihak yang benar dengan menuduh kelompok syi’ah dan khawarij sebagai pihak yang salah. Cara pandang yang semacam ini harus dihalau jauh-jauh dengan menjadikan Alquran sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi. Kepentingan politik sesaat dengan dalil agama sekalipun bagi saya adalah sebuah pengkhianatan. Sunni, syi’ah, dan khawarij adalah buah dari perpecahan politik, mengapa kemudian diberhalakan? Pemberhalaan inilah yang selama ratusan tahun telah menghancurkan persaudaraan sejati umat Islam, termasuk umat Islam yang tidak ada hubungannya dengan yang budaya Arab yang suka berpecah belah itu.

Tulisan : direpost dari Resonansi Republika (Klik Sini)

Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

ADONIS, MENTALITAS ARAB, DAN KRISIS SURIA (II)


Ahmad Syafii Maarif  

Tetapi awal Mei 2011, berdasarkan laporan Reuter, Adonis telah melancarkan kritik telak terhadap semua penguasa tiran Arab melalui pernyataan berikut karena mereka: “…tidak meninggalkan apa-apa, kecuali kehancuran, keterbelakangan, kemunduran, kepahitan, dan penyiksaan. Mereka tumpuk kekuasaan. Mereka tidak membangun masyarakat. Mereka balikkan negeri-negeri mereka ke dalam sebuah ruang penuh slogan tanpa muatan kultural dan kemanusiaan.” Bukankah Adonis mengungsi ke Perancis sejak 29 tahun yang lalu karena perlawanannya terhadap rezim otoritarian di negerinya sendiri? Tetapi sebagai seorang Gandhian, perlawanan Adonis bercorak anti kekerasan yang tidak jarang juga ditunjukkan oleh kalangan oposisi Suria. Hampir semua sastrawan di muka bumi bersikap anti kekerasan.


Memang situasi menjadi serba runyam. Al-Qur’an telah berhenti menjadi panduan utama dalam pergaulan kolektif umat Islam, termasuk rupanya oleh penyair Adonis. Ini adalah sebuah tragedi intelektual. Di sisi lain, kalangan ulama yang fasih bicara al-Qur’an selama sekian abad, mengapa Kitab Suci ini tetap saja dibiarkan bertahta di langit, tidak kunjung dibawa turun ke bumi untuk dijadikan obat penawar (syifâ’) bagi penyakit kemanusiaan yang semakin parah dari waktu ke waktu. Saya tidak tahu apakah Adonis pernah membaca karya-karya Iqbal, Fazlur Rahman, atau Khaled Abou El Fdl, yang juga sangat kritikal terhadap konservatisme ulama, tetapi tetap setia kepada teks sebagai sumber ajaran.

Adonis juga mengeritik keras konsep monoteisme dalam praktik. Simak pernyataan berikut yang dikaitkan dengan keberadaan Jerusalem sebagai kota suci tiga agama: “Jerusalem is a city of three menotheistic religions….If there’s one God, it should be beautiful. Instead, it’s the most inhuman city in the world.” (Jerusalem adalah sebuah kota untuk tiga agama monoteistik….Jika Tuhan itu Tunggal, semestinya ia [Jerusalem] itu indah. Padahal yang berlaku sebaliknya, ia adalah kota yang paling tidak manusiawi di muka bumi.”(Lih. wawancara panjangnya dengan wartawati Maya Jaggi dari the Guardian, 27 Feb. 2012). Terasa di sini kemuakan Adonis sudah sampai di leher: antara teks dan realitas tidak saja telah pecah kongsi, tetapi sudah dalam keadaan perang.

Ketika bulan Juni 2012, di tengah pukulan berdarah atas pemberontak Suria, Adonis sebagai warga negara menulis surat terbuka kepada Presiden Bashar al-Assad dalam harian Lebanon al-Safir. Sambil menggambarkan Suria sebagai sebuah negara polisi yang brutal, Adonis menyerang partai Ba’ath yang sedang berkuasa, meminta presiden turun tahta, dan mengingatkan al-Assad: “…anda tidak mungkin memenjarakan bangsa ini seluruhnya.” Tetapi cara-cara kekerasan yang ditempuh penguasa dan pihak oposisi semuanya ditentang Adonis. 

Pernyataan berikut menunjukkan di mana posisi Adonis dalam konstelasi politik di Suria: “Mengingat saya telah meninggalkan Suria tahun 1956 [semula ke Beirut] dan saya berada dalam suasana konflik dengannya selama lebih 50 tahun. Saya tak pernah berjumpa dengan Assad [Bashar atau ayahnya, Hafez]. Saya adalah orang pertama mengeritik partai Ba’ath, karena saya melawan sebuah ideologi yang didasarkan atas konsep kemanunggalan gagasan.” Lagi doktrin monoteisme dijadikan sasaran: “Sayangnya, dalam tradisi kami, segala sesuatu didasarkan atas kemanunggalan---kemanunggalan Tuhan, kemanunggalan politik, kemanunggalan bangsa. Kami tidak mungkin sampai ke sistem demokrasi dengan mentalitas semacam ini, karena demokrasi didasarkan atas pemahaman terhadap yang lain sebagai yang mengandung perbedaan.” (Lih. the Guardian di atas).

Demokrasi dengan segala kelemahannya di mata Adonis, pasti lebih baik dari sistem diktatur, baik diktatur militer atau diktatur religius yang lebih berbahaya. “Diktatur militer menguasai fikiranmu. Tetapi diktatur religius menguasai fikiran dan fisikmu.” (the Guardian, di atas). Dunia Arab yang statis sudah terlalu lama berada di bawah kekuasaan diktatur, baik militer mau pun religius. Kedua corak kediktaturan itu telah memperbudak mentalitas Arab dengan segala akibat buruknya. Sebagai seorang yang berfikir bebas and berani, Adonis dalam seluruh karya tulisnya telah membongkar kerapuhan mentalitas yang semacam itu. Akibatnya, bagi Adonis, akan lebih aman bermukim di Eropa tinimbang di kampung halamannya sendiri. Tragis!

Sumber (maarifinstitute.org) Resonansi Republika 21 Jan. 2014 


Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Kekayaan Alam di Tengah Kelumpuhan Ummat (1)

Ahmad Syafii Ma'arif


Berkat internet, kita akan dengan sangat mudah memperoleh informasi tentang banyak hal dari berbagai penjuru bumi. Dalam “Newsletter Online”, Vol. 08, No. 46 (10 Des, 2013) organisasi Jamiatul Ulama (Afrika Selatan), terdapat artikel tanpa menyebut nama penulisnya di bawah judul “Muslim World in Crisis” (Dunia Islam dalam Krisis). Organisasi ini berdiri pada 1923, bergerak di bidang pendidikan, da’wah, dan sosial dengan motto: “Mengabdi kepada Allah dengan melayani makhlukNya.” Lebih dari sekali saya baca artikel ini karena dirasa penting, sekalipun bukan tanpa komentar di sana-sini. Dengan dilengkapi angka-angka statistik tentang dunia Islam yang kaya raya di bawah penguasa yang zalim, di tengah kebodohan dan kelumpuhan umatnya, artikel ini patut disimak.

Karena perasaan tertekan diterpa krisis demi krisis, penulisnya seakan-akan sudah pasrah lalu mohon ampun kepada Allah atas segala dosa dan pelanggaran batas yang dilakukan umat Islam yang sedang sengsara dengan mengutip dua ayat Alquran berikut ini di akhir tulisan, yang artinya: “Ya Rabb kami! Ampuni dosa dan perbuatan kami yang telah melampaui batas dalam urusan kami; dan kokohkan kaki-kaki kami dan tolonglah kami dalam menghadapi kaum yang tak beriman” (Âli ‘Imrân: 147).

“Ya Rabb kami! Janganlah Engkau jadikan kami percobaan bagi orang-orang yang tidak beriman, dan ampuni kami, ya Rabb! Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (al- Mumtahanah: 5).

Do’a semacam ini adalah pengaduan dan jeritan yang teramat dalam kepada Allah karena suasana ketertindasan dan beban berat yang harus dipikul umat Islam sedunia. Mereka sengsara di tengah kekayaan alam yang melimpah dan posisi yang strategis, tetapi mengapa begini jadinya? Apa yang salah dengan umat Islam, sehingga menjadi kelinci percobaan (fitnah) bagi kalangan non-Muslim? Tetapi bagi saya, berdo’a dan merintih tidak cukup, kita harus berbuat sesuatu yang nyata dengan penuh nyali dan keberanian. Kata Iqbal: “Bergerak tapi berdosa lebih baik dari pada diam berpahala.”

Mari kita amati suasana dunia Islam dan angka-angka statistik yang dikutip dalam artikel  Jamiatul Ulama di atas berdasarkan sumber-sumber yang layak dipercaya. Menurut artikel itu, sejak permulaan perang di Afghanistan sampai akhir tahun 2013, umat Islam yang terbunuh dalam berbagai konflik dan perang sudah melampaui angka lima juta. Baik perang karena melawan tentara asing mau pun karena bertempur sesama mereka. Sekitar 70% pengungsi di muka bumi sekarang ini adalah Muslim. Mereka hidup dalam serba penderitaan dan penyakit, tetapi berapa lama lagi mereka harus sengsara demikian?

Jumlah seluruh umat Islam sekarang ada 1.62 miliar, lebih dari 23 persen dari seluruh penduduk bumi. Satu dari enam penduduk bumi adalah Muslim. Jumlah orang tidak kurang. Yang defisit justru kualitas. Akibatnya, kita dijadikan percobaan oleh pihak lain, karena mereka menguasai ilmu dan teknologi, di tengah dunia Islam yang sedang lumpuh, karena kebodohan dan konflik internal. Kita pun bangga jadi konsumen setia produk pihak lain.

Dalam perspektif kekayaan alam sebagai karunia Allah, angka-angka ini sungguh mengejutkan. 70 persen cadangan minyak bumi, total 550 miliar barel tersimpan di negeri-negeri Muslim. 49 persen cadangan gas alam, total 2532 triliun kubik feet, terdapat di negeri-negeri mayoritas Muslim. 21 persen produksi uranium dunia, total 6,421 ton per tahun, berasal dari negeri Muslim. Belum lagi letak geo-politik dunia Islam yang strategis yang semakin menambah kucuran karunia Allah itu, tetapi belum berdaya memanfaatkannya, karena kita bukanlah tuan di negeri sendiri. Si pandir lebih suka menonton kafilah lalu, tanpa tergerak untuk mengubah nasib sebagai sikap si pemberani. Daya pekanya tumpul, karena terlalu lama hidup dalam kebanggaan semu.

Kemudian, fakta lain menunjukkan bahwa tidak kurang dari 300 juta umat Islam, atau lebih seperlima dari jumlah keseluruhan, merupakan kelompok minoritas di berbagai negara, seperti di India, Cina, Rusia, Eropa, Amerika, dan banyak yang lain. Mereka ini menghadapi berbagai rintangan dan tantangan yang tidak serupa dengan saudara mereka yang mayoritas yang juga sarat dengan masalah-masalah lain seperti yang akan dibicarakan selanjutnya




Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Masjid dan Kampanye Politik

Ahmad Syafii Ma'arif



Menjelang usia 20 tahun di pertengahan abad ke-20, di kawasan Bantul, Jogjakarta, saya pernah turut serta dalam kampanye Pemilu 1955 untuk mendukung partai tertentu. Rasanya bersemangat sekali, sekalipun pengetahuan tentang politik kepartaian sangatlah minim. Di era pertentangan ideologi politik yang sangat panas ketika itu, hampir semua ruang publik, termasuk masjid, telah digunakan untuk meluaskan pengaruh kepartaian, demi memenangkan partai yang digandrungi. Akibatnya, masjid telah berubah menjadi ajang kampanye partai, khususnya partai-partai yang berideologi Islam ketika itu. Adapun partai yang berideologi lain nyaris tidak punya masjid untuk berkampanye, sekalipun anggotanya sebagian besar adalah Muslim juga.

Tokoh-tokoh partai Islam pada musim pemilu pertama itu sangat piawai menggunakan dalil-dalil agama agar rakyat hanya memilih partai-partai yang berasaskan Islam. Di luar itu, berdasarkan keputusan Kongres ‘Alim-Ulama tahun 1953 di Medan, haram hukumnya. Maka tidak pelak lagi, masjid-masjid telah digiring untuk berpihak kepada partai-partai yang serba Islam itu. Perasaan saya kala itu mengatakan bahwa penggiringan itu sah-sah saja. Bukankah partai-partai yang tidak berdasar Islam itu oleh Kongres Medan di atas tidak boleh dipilih? Tak terfikir bahwa warga partai-partai yang tidak resmi berdasar Islam itu juga banyak umat Islamnya yang juga salat di masjid. Mereka sangat terganggu oleh khutbah-khutbah Jum’at yang umumnya berisi kampanye yang menyudutkan partai mereka.

Sekarang kita berada di awal tahun 2014. Dengan bergulirnya waktu, ada beberapa fenomena menarik yang harus dicermati terkait dengan terjadinya proses santrinisasi kualitatif. Fenomena ini terlihat di kampus-kampus, di lingkungan partai politik, di kantor-kantor, dan di banyak tempat lainnya. Akibatnya, jumlah masjid sekarang sudah tidak memadai lagi untuk menampung jamaah, sejalan dengan ledakan demografis yang cukup mencemaskan. Dalam internet, saya gagal mendapatkan data akurat tentang berapa jumlah masjid sebenarnya di Indonesia sampai hari, karena memang belum ada angka statistik yang valid. JK misalnya mengatakan bahwa jumlah masjid dan mushalla ada sekitar 850 rubu. Disebutkan juga bahwa sebuah masjid diperuntukkan untuk 700 jamaah. Dengan demikian, masih diperlukan ratusan ribu masjid lagi untuk menampung jumlah jamaah yang
semakin berjibun dari waktu ke waktu di Indonesia.

Kita ambil angka gampangan saja, katakan ada sekitar 600 ribu masjid yang dipakai untuk salat Jum’at dengan 200 jamaah rata-rata. Maka yang turut dalam salat Jum’at menjadi 120 juta dari 207 juta umat Islam Indonesia. Tuan dan puan bisa bayangkan, jika dalam khutbah Jum’at diselipkan kampanye politik partai tertentu, pastilah masjid berhenti menjadi tempat yang nyaman, diliputi oleh suasana persaudaraan. Perpecahan di akar rumput akan menjadi sulit dihindari, seperti yang dulu pernah berlaku. Jalan yang paling arif menurut saran saya adalah membebaskan semua masjid dari gesekan politik kepentingan sesaat, jadikan Rumah Allah ini sebagai tempat teduh dan sejuk buat semua orang beriman, terlepas dari apa pun partai yang didukungnya. Para khatib haruslah belajar menjadi negarawan di lingkungan sosialnya masing-masing, hindarkan diri dari sikap partisan. Di saat defisitnya jumlah negarawan sekarang ini, siapa tahu dari lingkaran masjid mereka akan bermunculan.


Dalam Alquran (al-Taubah: 107-108) dengan tegas dikatakan bahwa masjid dibangun atas dasar taqwa, bukan untuk mengejar kepentingan duniawi yang bisa membawa perpecahan. Ayat inilah yang wajib dijadikan acuan dan pedoman dalam kehidupan kolektif umat Islam, bukan sumber yang lain. Artinya, syahwat politik kekuasaan jangan sampai dibawa-bawa ke dalam masjid, karena pasti akan mengotorinya dan menyulut sengketa yang sangat ditentang Alquran (Âli ‘Îmrân: 103, 105, 112).

Pada bulan-bulan pemilu ini, umat Islam haruslah mendahulukan ajaran Alquran tinimbang kepentingan politik yang umurnya sangat pendek, disamping sering merusak. Maka jadikanlah masjid untuk memupuk taqwa dalam makna menjaga diri dari murka Allah dengan senantiasa mendekatkan diri kepadaNya. Masjid haruslah bersih dari suasana kampanye politik.



Read more...