Slide 1 Slide 2 Slide 2 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Perlu Kajian Mendalam Menuju Kemaslahatan*




Ari Susanto

Pegiat MIM Indigenous School; 

Mahasiswa pasca-sarjana UII konsentrasi Ekonomi Islam



Dengan adanya Undang-Undang (UU) nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, mengamanahkan pemerintah provinsi untuk mengambil alih pelaksanaan tugas pendidikan menengah. Pelimpahan penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan menengah kepada pemerintahan provinsi, yang sebelumnya dilaksanakan oleh kabupaten/kota, membuat Dewan Perwakilan Daerah (DPR) harus membuat peraturan daerah (perda) baru sebagai acuan pelaksanaan kebijakan. Konsekuensi atas pengalihan tugas diatas, terjadi konversi Pegawai Negeri Sipil (PNS) kabupaten/kota ke provinsi, kini menjadi beban provinsi dan mengurangi beban kabupaten/kota.
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Impor adalah Kebutuhan Nasional *



Ari Susanto
Pegiat MIM Indigenous School; 
Mahasiswa pasca-sarjana UII konsentrasi Ekonomi Islam




Dalam kajian teori ekonomi makro, jika terjadi defisit (kekurangan) kuota kebutuhan dalam suatu negara, maka kebijakan yang diberlakukan yaitu dengan memberlakukan kuota impor dari negara lain. Kebijakan stategis-taktis ini dinilai sangat efektif dalam penanggulangan defisit di suatu negara. Kebijakan impor kuota sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga di pasar. Sebab dalam hukum penawaran, jika suatu barang dan jasa berkurang atau sedikit maka harga akan naik. Sehingga, jika kebutuhan kuota akan barang/jasa meningkat, sedangkan barang/jasa kebutuhan komuditi sedikit, maka harga dipasaran akan naik. Sehingga kebijakan impor menjadi alternatif dalam menjaga harga-harga dipasaran.
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Islam, Sains dan Masyarakat *



Apri Tri Nugroho
Pegiat MIM Indigenous School; 
Founder LIBAS (Profil)


Sains dan Perkembangannya
Penguasaan atas pengetahuan akan teknologi akan menjadi indikator bagi suatu bangsa untuk dikatakan maju atau tidak. Jikapun pernyataan tersebut ditolak, maka kita dapat berkaca pada negara-negara pemain globalisasi di kawasan Asia. Negara-negara yang dimaksud adalah India, Cina, Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia.[1] Masing-masing negara tersebut begitu memperhatikan sains dan pengembangan teknologi. Maka tak perlu terkejut apabila dalam produk-produk elektronik yang digunakan dalam keseharian terdapat nama-nama negara tersebut dalam kemasannya.
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 1 komentar

Rasionalitas Al-Qur’an (Bagian-2)





Ari Susanto
Pegiat MIM Indigenous School; 

Mahasiswa pasca-sarjana UII konsentrasi Ekonomi Islam

 


2)     Corak Pemikiran Sayyid Muhammad Rasyid Ridha[1]
Metode dan corak penafsiran Sayyid Muhammad Rasyid Ridha pada dasarnya secara garis besar mengikuti ‘metode dan ciri-ciri pokok’ Syeikh Muhammad ‘Abduh.Adapun peran akal yang digunakan dalam penafsiran Rasyid Ridha dapat kita lihat dari beberapa keterangan dibawah ini:


a)      Penggunaan akal secara luas dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an.

Ridha menolak Pandangan ulama-ulama yang menyatakan firman Allah tentang jin adalah surah al-A’raf : 27
Read more...
Diposting oleh http://mimindigenous.blogspot.com/ | 0 komentar

Rasionalitas Al-Qur’an : Studi Kritis Terhadap Tafsir Al-Manar Karya : Prof. Quraish Shihab, MA. (1)*


Ari Susanto
Pegiat MIM Indigenous School; 
Mahasiswa pasca-sarjana UII konsentrasi Ekonomi Islam


A.          Latar Belakang Masalah
Masyarakat Mesir (abad 19 M) digambarkan oleh Sayyid Quthbpada saat itu dengan ungkapan “ suatu masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad, mengabaikan peran akal dalam memahami syariat Allah,… mereka telah merasa berkecukupan dengan hasil karya para pendahulu mereka yang juga hidup pada masa kebekuan akal (jumud) serta yang berlandaskan khurafat. Sementara itu di Eropa hidup suatu masyarakat yang mendewakan akal, khususnya setelah penemuan-penemua ilmiah yang sangat mengagumkan itu”.[1]
Sedangkan Abduh merasakannya atmosfir masyarakat Mesir seperti itu saat ia memasuki pintu gerbang al-Azhar, lembaga pependidikan tinggi yang terbelah ulamanya menjadi dua kelompok yaitu mayoritas dan minoritas. Kelompok mayoritas, menganut pola taqlid,
Read more...